Baru kali ini merasakan kepenatan luar biasa mengurus Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA Negeri di wilayah DKI Jakarta. Sepekan terakhir ini menjadi hari-hari yang hectic saat saya ikut mengurus PPDB bagi dua anak saya, satu ke SMA dan satunya ke SMP. Sejak si sulung dinyatakan lulus SMP saya langsung berburu informasi seputar PPDB online. Read More →

3,117 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Layanan Ring Back Tone (RBT) yang dikeluarkan operator selular adalah layanan jenial di dunia telekomunikasi nirkabel. Sebelum ada RBT, kegiatan bertelepon, utamanya saat menghubungi seseorang kerap membuat jenuh. Menunggu hubungan tersambung dengan HP menempel di telinga tanpa ada aktivitas lain membuat saya kerap seperti ‘orang bener’.

Setelah adalah layanan RBT, menunggu sambungan telepon selular adalah hiburan tersendiri. Biasanya saya akan happy jika RBT yang saya dengarkan adalah lagu favorit saya, baik dari musisi lokal maupun mancanegara. Bahkan komunikasi melalui HP jadi makin seru lantaran ada perbincangan soal RBT di sela kegiatan bertelepon. Apalagi jika RBT milik rekan saya lagunya asyik tapi belum saya tahu, bisa-bisa niat ngobrol pendek jadi panjang lebar. Pendek kata, bagi saya RBT itu layanan pintar, pandai membuat suasana hati jadi senang dan menghilangkan bete.

Sementara itu secara bisnis sendiri, layanan RBT merupakan tambang uang operator seluler. XL Axiata misalnya, menurut Direktur Komersial Joy Wahyudi dalam suatu kesempatan seperti saya kutip dari ForumJualBeli.Net pernah menyatakan, layanan RBT dan RBT plus dari XL menjadi tulang punggung pendapatan dari layanan bernilai tambah (value added service/ VAS). Hingga kuartal pertama 2011, ada sekitar 9 juta pengguna aktif RBT dari total 39,3 juta pelanggan XL.

Apa arti angka-angka ini ?

Menurut saya, RBT adalah layanan yang dahsyat. RBT ada karena dibutuhkan oleh pengguna telepon selular. Angka-angka itu sudah cukup berbicara, RBT bukan hanya layanan iseng-iseng, namun menjadi salah satu layanan opeator selular yang keberadaannya banyak memberi nilai baru pada arti komunikasi.

Sedangkan bagi penyedia jasa, RBT adalah primadona yang mempertebal nominal pemasukan bagi perusahaan. Suka tak suka layanan RBT telah memberi nilai tambah (value added) bagi komunikasi nirkabel selama ini.

Ke depan, saya mengharapkan RBT bukan sekedar lagu tapi bisa dalam bentuk lain. Memang saat ini sudah ada operator telepon seluler yang membuat RBT berisi iklan. Namun kehadirannya masih belum cukup diterima publik. Mungkin perlu dipikirkan agar konten RBT digarap lebih bagus sehingga pendengarnya tidak merasa terteror oleh informasi berupa iklan tadi.

2,741 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

“Dear indovision, kenapa sejak kemarin petang indovision di rumah kami tak tayang. Di layar tertulis This card is not authorised. CA STBID is 3873 2320 8778 4689 Smart Card is 0000 2330 3118 (6). ID Pelanggan : 401 0000 83478”

Sepotong surat keluhan itu saya kirim lewat email hari sabtu pagi. Email itu saya tujukan pada call center operator tv berbayar terbesar di Indonesia, Indovision karena layanan Indovision tidak beroperasi di rumah sejak jum’at petang. Surat elektronik itu “terpaksa” saya kirim karena hotline service 24 jam Indovision sangat sulit dihubungi.

Terpaksa, karena sejak Sabtu subuh saya terus kontak melalui 3 nomer hotline berbeda, tapi hasilnya nihil. Dan baru pada sekitar pukull 12.45 bisa bicara dengan petugas callcenter.

Setelah saya sampaikan keluhan kemudian petugas mengecek kerusakan di control room mereka, hasilnya menurut petugas, layanan Indovision saya diputus karena bermasalah dalam tagihan. Saya tak terima, karena saya sudah membayar tagihan sebelumnya yang cukup besar. sebagai akumulasi kesalahan sistem tagihan Indovision.

Tagihan itu sendiri aneh, saya langganan paket super galaxy dengan harga promo 50 persen. Tiba-tiba tagihan diakumulasi dengan jumlah yang fantastis. Saya keberatan karena tagihan tidak sesuai promo. Petugas CS Indovision malah menyalahkan saya yang mendaftar promo setengah harga namun tak memasukkan surat keterangan dari HRD tempat saya bekerja.

Saya katakan, saya ikut promo ini karena syaratnya ringan, cukup melampirkan copy ID pegawai. Sales yang menawarkan paket ini tak pernah sedikitpun menyinggung soal surat keterangan HRD. Aneh begitu ada tagihan dan jumlahnya fantastis mereka seenaknya bilang itu kesalahan saya.

Bulan lalu saya dapat tagihan 548.707. Jumlah itu berkurang jauh dari tagihan awal. Saya lunasi tagihan itu dan bulan ini saya punya tagihan hanya 129.500 saja. Mengapa tiba-tiba diputus karena dianggap bermasalah dalam tagihan? Ini baru tanggal 17 Desember, kalaupun saya belum membayar itu belum jatuh tempo.

Yang saya tak habis mengerti bagaimana tim CS Hotline Indovision melayani keluhan pelanggan? Email yang saya kirim tak satupun berbalas. Begitu juga dengan sms. Yang lebih parah adalah Hotline service susah dihubungi. Kalaupun nyambung, saya tak sekalipun bisa bicara dengan petugas. Selalu berhadapan dengan mesin penjawab otomatis dan diminta menunggu lama dan diakhiri dengan kata “maaf customer officer kami sedang sibuk”.

Karena cara konvensional tak ampuh, saya kemudian menghubungi melalui akun twitter @Indovision_TV. Lumayan cepat tanggapannya. Dan kurang dari sejam Indovision di rumah kembali normal. Namun itu hanya berlangsung sesaat, dua jam kemudian kembali “pingsan” hingga hari Minggu. Dan kembali saya harus menempuh perjalanan panjang untuk menyampaikan keluhan. Sepanjang Sabtu malam tak satupun twit saya ditanggapi, begitupun dengan telepon yang selalu gagal bicara dengan CS officernya.

Pelajaran terbesar dari kasus ini adalah membangun hotline service yang tangguh tidak selesai dari sekedar niat. Nomer CS hotline, sms, maupun alamat email yang ditempel di tiap decoder di rumah pelanggan tentunya bukan pajangan penghias decoder belaka.Harus ada sistem integral dengan petugas yang memiliki sense terhadap pelanggan. Mengapa mencantumkan nomor sms yang bisa dihubungi jika ternyata sms itu tak dijawab. Mengapa pula mempunyai alamat email kalau tak ada tanggapan keluhan pelanggan.

Di era teknologi informasi seperti sekarang customer tak bisa dianggap hanya sebagai bagian catatan jumlah pelanggan.Dia harus dimaintain, dimanusiakan. Customer, siapapun dia punya hak penuh atas layanan terbaik. Karena kepuasan customer akan menjadi iklan gratis bagi customer lainnya dari mulut ke mulut. Sementara ketidak pedulian terhadap customer akan membuat sebuah brand laksana menggali kuburnya sendiri.

12,829 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Sebuah ledakan cukup kencang Kamis pagi terjadi di stasiun pengisian BBG Pinang Ranti Jakarta Timur. Ledakan ini menyebabkan bus TransJakarta yang tengah mengisi gas mengalami kerusakan parah. Body bus tak lagi berbentuk dan besar kemungkinan tak layak jalan.

Selain merusakkan bus, ledakan ini juga menyebakan tiga orang menderita luka-luka. Ketiganya yang kini dirawat di RS Haji Pondok Gede menderita luka bervariasi.

Hingga malam ini penyebab pasti ledakan masih diselidiki polisi. Belum diperoleh kejelasan mengapa peristiwa ini bisa terjadi. Polisi masih mengumpulkan berbagai bukti dan memeriksa sejumlah saksi dari tempat kejadian perkara.

Meski penyebab kejadian masih serba misterius, namun yang pasti kejadian ini makin menambah daftar ‘musibah’ yang beruntun menimpa bus Transjakarta atau lebih dikenal sebagai Busway ini. Sekedar mengingatkan saja, dalam bulan September 2011 terjadi tiga kasus kecelakaan lalu lintas yang melibatkan Busway. TIga korban tewas, dan dua lainnya luka-luka. Yang tewas selain pengendara, juga pejalan kaki yang melintasi jalur busway.

Lebih jauh sebelumnya, sejumlah bus TransJakarta juga terbakar saat beroperasi di ibukota.

Kejadian-kejadian ini tak pelak menyiratkan tanya, ada apa dengan busway? Bukankah busway adalah moda transportasi alternatif yang menjadi andalan untuk mengatasi peliknya problema transportasi ibukota? Lalu mengapa satu persatu peristiwa buruk seolah dibiarkan terjadi dan menimpa busway?

Sepertinya Pemprov DKI Jakarta sebagai pembuat kebijakan transportasi di ibukota abai dalam merawat busway. Persoalan demi persoalan tak pernah diselesaikan hingga tuntas, sehingga menumpuk dan berulang. Abainya Pemprov terlihat dari ketidak tegasan dalam menindak para penyerobot jalur busway. Tiap hari kita disuguhi pemandangan penyerobotan jalur busway secara resmi.

Polisi yang semestinya berperan sebagai penegak hukum pun diam tak memberi tindakan apapun. Sementara penjagaan di beberapa jalur busway dengan memberi penghalang dan menempatkan petugas, sepertinya sekedar basa-basi. Tak ada gunanya. Ketiadaan efek jera bagi para pelanggar membuat warga mengulangi terus-menerus kesalahan menerobos jalur busway.

Butuh keteladanan dan sikap tegas pembuat kebijakan. Busway tidak bisa dibiarkan berjalan tiap hari tanpa adanya pengawasan yang ketat. Pengawasan pun tak bisa hanya sekedar menempatkan petugas di pintu jalur busway, tapi mengawasi dan member efek jera yang setimpal bagi para penerobos jalur. Sehingga akan mengurangi angka kecelakaan secara massif.

Jika busway adalah moda transportasi andalan, mestinya ditangani secara professional. Jalurnya dijaga, bisnya dirawat, aturan ditegakkan.

Sementara terkait terbakarnya bis dan ledakan di Pinang Ranti, para pramudi Busway juga mesti menaati Standar Operasional Prosedur yang telah ditetapkan. Apakah saat mengisi BBG konidisi SPBG sudah steril dari bahan yang bisa menyulut ledakan?

Para pramudi Busway juga mesti taat aturan saat menjalankan kendaraan. Bukan hanya sekali saya menyaksikan pramudi yang memainkan telepon genggam saat membawa mengemudi. Jelas ini membahayakan keselamatan. Hal mendasar semacam ini mestinya jadi panduan pokok bagi pramudi busway.

Jika semua pihak yang terkait dengan busway bisa sadar akan posisi mereka, bukan tak mungkin mimpi menjadikan busway kendaraan umum yang aman dan nyaman akan menjadi nyata.

2,562 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Rencana pemerintah melibatkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam persoalan BBM menerbitkan pro-kontra. MUI diminta mengeluarkan fatwa haram bagi golongan berpunya yang membeli dan menggunakan BBM bersubsidi. Seperti kita tahu, sebelumnya pemerintah gencar mengkampanyekan penggunaan BBM sesuai kelas masyarakat. BBM jenis premium yang merupakan BBM subsidi diberi cap sebagai BBM bagi warga kalangan berekonomi lemah. Sebaliknya Read More →

1,722 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Saya adalah pelanggan jasa layanan internet berkabel Telkom Speedy. Kenapa saya memilih Speedy karena aktivitas berinternet kerap saya lakukan di rumah. Dulu sebelum memiliki smart phone, dalam benak saya berinternet paling enak ya di rumah. Bisa sambil nonton tv, dengar radio, hingga disambi mengerjakan tugas kuliah atau kantor. Pendek kata, berinternet bagi saya harus dalam Read More →

3,262 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Bukan musim mudik atau liburan panjang, kok saya terjebak macet tengah malam di tol Jagorawi. Aneh. Padahal sudah disengaja pulang tengah malam agar tak terjebak macet di ujung Jum’at. Eh, ndak taunya dodol! Tolong dicatet, Jasa Marga mesti baca keluhan saya ini. Sejak pelebaran ruas tol dari arah Taman Mini ke Cibubur dan sebaliknya, kemacetan Read More →

2,132 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini