Berkunjung ke Pangkalpinang, Bangka meninggalkan jejak memori rasa pada kulinernya yang aduhai. Entah sudah berapa berat timbangan badan saya bertambah selama traveling di kota ini. Makan, ngemil dan jajan jadi kegiatan mengasyikkan di sela penjelajahan destinasi wisata.

Mengenal ragam kuliner memang jadi kegiatan yang selalu saya lakukan saat traveling ke tempat baru. Mencicipi sajian khas setempat yang ngehits atau sajian yang sudah jarang ditemukan di pasaran memberi kenikmatan tersendiri.

Icip-icip kuliner lokal adalah keharusan, dan itu menjadi cara terbaik mengenal tradisi, budaya dan sejarah sebuah kota. Ada sensasi menyenangkan saat bisa mencecap rasa kuliner khas sebuah daerah.

Dan seorang kawan pernah berpesan, jika ke Bangka harus siap-siap menyantap makanan yang serba laut. Sebagai bagian dari kepulauan Bangka-Belitung yang dikelilingi lautan, kota Pangkalpinang di Bangka banyak menawarkan sajian kuliner berbahan dasar ikan dan teman-temannya itu. Anda dijamin tak akan bisa move on dari rasa kuliner khas Bangka di Pangkalpinang.

Ada beberapa diantaranya yang mesti dicoba saat mampir ke ibukota provinsi Bangka Belitung ini.

Mie Koba yang Melegenda

Penjelajahan rasa saya diawali dengan mie Koba. Namanya sedikit mengingatkan pada (nar)Koba, padahal sangat jauh dan tak ada hubungan apapun. Tapi saya jamin anda bakal ketagihan begitu lidah digoyang rasa mie koba.

Kedai mie Koba Iskandar ini sebenarnya asalnya dari daerah Koba di Bangka Tengah. Karena terkenal dan legendarisnya, kedai ini kemudian membuka cabang di Jalan Balai Pangkalpinang, provinsi Bangka Belitung. Letaknya yang tak seberapa jauh dari bandara Depati Amir membuat kedai ini sangat terkenal dari lokasi awalnya.

Kedai Mie Bangka Iskandar (foto dokpri)

Kedai Mie Koba Iskandar (foto dokpri)

Untuk mencapai kedai Mie Koba Iskandar ini cukup mudah. Karena sudah terkenal sopir taksi yang membawa kami dari bandara langsung tahu dan tak banyak tanya menuju rumah makan ini.

Turis yang datang ke Pangkalpinang memang biasanya meminta singgah sebentar ke sini untuk merasakan keriaan rasa mie Koba yang kondangnya kemana-mana. Sayapun demikian.

Sepiring Mie Koba nan Menggoda rasa (foto dokpri)

Sepiring Mie Koba nan Menggoda rasa (foto dokpri)

Mie Koba disajikan di atas piring, bukan mangkok seperti mie yang biasa saya santap di Jakarta. Satu porsi mie Koba berisi mie kuning yang tak terlalu tebal (bahkan cenderung tipis) dengan teksturnya yang lembut. Taburan daun seledri dan bawang goreng melengkapi presentasinya di atas piring berukuruan standar. Yang membuat mie Koba ini berbeda adalah guyuran kuah ikan tenggiri di atas mie. Rasanya gurih, tidak terlalu pekat, cenderung ringan. Menyeruput kuahnya berasa segar.

Mie Koba lebih enak jika dimakan dengan sebutir telur ayam rebus. Harga seporsi mie Koba IDR 12K. Lumayan murah meriah. Bagi yang biasa menyantap hidangan mie dengan porsi besar, pasti tak puas dengan porsi langsing satu piring seperti saya #eh.

Kwetiau Kuah Ikan

Kwetiau kuah ikan ini saya cicipi bareng teman-teman setelah bersepeda bareng Walikota Pangkalpinang M.Irwansyah. Perjalanan mengayuh sepeda yang cukup menguras tenaga membuat kami seperti mendapat surga saat mampir di kedai Raja Laut yang letaknya di pinggir pantai Pasir Padi.

Ada sejumlah sajian khas Pangkalpinang yang disiapkan pemilik kedai. Namun satu yang membuat saya sangat ingin mencoba adalah kwetiau kuah ikan. Selain porsinya yang tidak terlalu besar, kwetiaunya juga berbeda dari yang pernah saya coba selama ini. Ukuran kwetiaunya lebih pipih dan kecil. Warna kwetiaunya lebih bersih dari kebanyakan kwetiau yang pernah saya makan.

Kwetiau Kuah Ikan (foro dokpri)

Kwetiau Kuah Ikan (foro dokpri)

Presentasi kwetiau kuah ikan ini cukup simpel. Satu piring berukuran sedang diisi sedikit kwetiau. Di atasnya diberikan ikan tenggiri yang sengaja dihancurkan sebagai penguat rasanya. Selain itu ada pula kecambah atau toge dan bawang merah goreng. Kuah ikannya disiramkan dari bagian samping kwetiau agar tak merusak presentasi makanan.

Rasanya? Ringan, ikannya sangat kuat terasa. Ada sensasi kriuk-kriuk dari kecambah segar. Enak. Lagi-lagi sarapan dengan kwetiau porsi kecil ini tidaklah cukup satu piring. Terlalu lezat bila melewatkan pagi yang indah dengan tak mencicipi kwetiau kuah ikan ini.

Kedai Raja Laut sendiri letaknya di ujung pantai pasir padi. Relatif mudah dicari. Kedai kecil ini umumnya ramai di akhir pekan dan melayani sarapan warga Pangkalpinang usai berolahraga. Sejumlah komunitas bersepeda kerap menyambangi kedai ini yang berlokasi tepat di sisi pantai. Sambil menyantap kelezatan kwetiau kuah ikan, anda akan dibuai angin segar yang bertiup sepo-sepoi dari arah pantai. Surga….

Seafood Mr.Asui

Kepiting di Kedai Mr.Asui (foto dokpri)

Kepiting di Kedai Mr.Asui (foto dokpri)

Beberapa kali makan seafood saat ke Bangka, baru di kedai Mr.Asui saya merasakan yang paling top. Kedai ini cukup banyak yang merekomendasi untuk dicoba. Termasuk pecinta kuliner Bondan Winarno pun pernah merekomendasikan kedai seafood ini.

Untuk mencapai kedai seafood ini (lagi-lagi) cukup mudah. Karena nama kedai seafood Mr.Asui ini kondang ke seantero Bangka, jadi banyak yang paham letaknya. Padahal lokasinya agak menjorok ke dalam sebuah gang, tepatnya  di Jalan Kampung Bintang, Pangkal Pinang. Sangat mudah dicapai dari jalan protokol Jalan Jendral Sudirman.

Kedai ini juga menjadi ikon kuliner kota Pangkalpinang, khususnya untuk makanan laut.

Konon yang paling enak dari sajian seafood di Mr.Asui adalah Ekor tenggiri bakarnya. Sayangnya saya tidak sempat mencoba kedahsyatan rasanya lantaran sudah terpesona dengan kepiting asam manisnya yang ternyata dahsyat juga.

Tampilan kepiting bumbu asam manisnya memang menggoda selera. Warna kepiting yang kemerahan pasti membuat ngiler yang melihatnya. Warna ini sekaligus menunjukkan kepiting yang dimasak masih segar. Dan ternyata dugaan saya tak jauh dari rasanya. Bumbu asam manisnya menyerap hingga ke dalam cangkang kepiting. Tingkat kepedasannya standar, cukup lah.

Oiya jangan lupa temani juga dengan cah kangkungnya yang juga enak. Kalau kemari saran saya kosongkan perut agar mampu menampung kelezatan seafoodnya tanpa kompromi.

Pempek 10 Ulu

Bagi yang senang dengan kudapan yang bisa mengenyangkan Pempek 10 Ulu ini bisa jadi pilihan. Makanan ini meski populer sebagai sajian khas Palembang, menurut warga Bangka sebenarnya adalah makanan khas Bangka. Saya tak hendak berpolemik soal asal usul Pempek ini.

Yang jelas jika mencari pempek di Pangkalpinang kedai Pempek 10 Ulu di jalan Sudirman bisa jadi rujukan rasa otentik pempek. Sajiannya beragam, mulai dari pempek kapal selam yang berukuran lumayan besar, pempek lenjer, pempek kulit, pempek adaan, model hingga pempek keriting.

Pempek Kulit RM.Pempek 10 Ulu (foto dokpri)

Pempek Kulit RM.Pempek 10 Ulu (foto dokpri)

Soal rasa jangan ditanya, ikannya berasa banget. Bukan ‘ikan-ikanan’ seperti pempek abang-abang. Saya paling suka dengan pempek kapal selam yang ukurannya lumayan jumbo. Makan satu porsi cukup mengenyangkan.

Satu lagi yang saya suka Pempek 10 Ulu punya pilihan paket untuk dijadikan oleh-oleh dengan range harga bervariasi. Ada paket murmer sampai paket lengkap yang berisi campuran semua jenis pempek dalam satu dus. Kemasannya menarik, sangat modern. Cocok dibawa ke kabin pesawat dan aman pula ditaruh di bagasi.

 

Simpan

Simpan

Simpan

14,384 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

 

Sepincuk Pecel Sehat (foto dokpri)

Sepincuk Pecel Sehat (foto dokpri)

Pecel Mbok Suti. Penganan khas Jawa ini memang selalu menggoda. Saya meski sudah puluhan tahun tinggal di Jakarta selalu kepincut dengan aroma sambalnya, merasakan kenikmatan racikan sambal dengan aneka jenis sayur mayur yang menyehatkan selalu menjadi sensasi tersendiri.

Minggu siang (11/10) Solo panas terik. Konon kota ini sudah semenjak Juni tak pernah turun hujan. Pantas, saya membatin dalam hati.

Siang tadi saya ikut keliling kota Solo bareng teman-teman, berburu tempat makan yang enak dan ngangeni, serta tentu saja berburu oleh-oleh. Selagi menyambangi toko batik Ria di Jalam RM.Said, iseng saya ngabur dari rombongan keluar toko.

Penasaran dengan lokasi sekitar toko batik ini. Masak sih tempat hits begini gak ada kulinernya yang bisa dicoba. Karena biasanya jika travelling ke sebuah kota dan menemukan tempat belanja oleh-oleh khas sebuah daerah, maka tak jauh dari situ bakal ada penjual penganan yang juga khas.

Tak sengaja mata saya menatap seorang mbok-mbok yang lesehan duduk di ubin depan atau emperan toko Ria. Si-mbok saya taksir usianya pasti lebih dari setengah abad. Ia berjualan layaknya pedagang pasar yang biasa saya temui di pasar tradisional di daerah Jawa. Membawa bakul, baskom dan sejumlah dagangan. Ternyata ia berjualan pecel.

Saya mondar-mandir mengamati isi jualan si-mbok. Hmm… kayaknya menarik nih. Sejak tadi saya perhatikan pembelinya silih berganti mengerumuni lapak si-mbok. Jadi penasaran, seenak apa sih kok banyak yang makan di situ atau membeli untuk dibawa pulang.

Langsung saya pesan satu porsi nasi pecel lengkap, komplit. Saya perhatikan sayuran yang digunakan berbeda dari pecel yang biasa saya makan. Di situ memang ada daun pepaya, daun bayam dan toge. Tapi di baskom jualannya juga ada kembang turi, krokot, kemangi dan lamtoro alias petai cina. Hmm… beda nih. Nasi yang dia gunakan juga berbeda dari nasi pecel lainnya, si-mbok yang kemudian saya tanya namanya sebagai mbok Suti itu menggunakan nasi beras merah. Wow.

Satu pincuk nasi merah pecel kemudian tersaji menggoda selera saya. Padahal sebenarnya saya tak terlalu lapar banget. Karena sebelumnya sarapan agak kesiangan. Jadi perut tidak benar-benar butuh diisi. Tapi, sudahah lupakan itu semua. Saya akan coba makan dengan menikmatinya secara perlahan. Bahasa kerennya sih slow eating. Kalau di kantor mesti makan siang dengan tergesa lantaran sudah ditunggu rapat atau keperluan lain, kali ini lantaran sedang lan-jalan bolehlah manja sedikit dengan makan “pelan-pelan saja.”

Sambal Hitam Yang Menggoda

Bisa jadi kali ini saya lapar mata, cuma tergoda ingin makan karena ‘mata saya’ menatap sebuah sajian kuliner yang menggemaskan. Sementara perut belum tentu ‘ingin’ diisi.

Pecel Aneka Sayuran (foto dokpri)

Pecel Aneka Sayuran (foto dokpri)

 

Tapi ini nasi Pecel brow. Pecel merupakan salah satu jenis kuliner khas Jawa yang selalu menggoda saya. Di rumah hampir tiap beberapa pekan nasi pecel menjadi kuliner wajib yang kami santap sekeluarga. Sayang sekali melewatkan pecel yang sudah di depan mata.

Bagaimana penampakan pecel mbok Suti ini? Selain sayuran dan nasi merah yang saya sebut di awal, nasi pecel mbok Suti punya perbedaan dengan nasi pecel lainnya. Jika biasanya saya makan pecel dengan sambal kacang berwarna kecoklatan, kali ini berbeda. Mbok Suti menggunakan sambal pecel berwarna kehitaman. Rupanya sambal pecel itu dibuat dari wijen hitam. Rasanya? Hmm… endeus surendes.

Jika sambal kacang rasanya pekat dengan butiran kasar kacang tumbuk yang sensasi rasanya berbeda jika ditumbuk halus, maka yang ini berbeda. Sambal wijen hitam lebih halus, seratnya tak sekasar sambal kacang. Rasanya lebih juicy. Pedas cabenya jadi lebih menonjol.

Nasi Merah Pembeda Pecel Mbok Suti (foto dokpri)

Nasi Merah Pembeda Pecel Mbok Suti (foto dokpri)

Tak cukup sekali sambal wijen hitam itu ada di pincuk saya, saya berkali-kali minta nambah. Mbok Suti dengan senang hati memberikan sambalnya. Dari senyum di wajah tuanya saya menangkap sebuah keriaan. Ia tampak bahagia. Sepertinya hasil usaha kerasnya memasak bersama orang rumahnya diapresiasi saya begitu rupa.

Berkali-kali pula si-mbok menanyakan apakah saya senang dengan sambal hitamnya itu. “Enak, tho pak sambalnya si-mbok? Nambah sambelnya ya, atau mau bawa ke Jakarta yang masih bungkusan plastik ini?”, begitu mbok Suti menawarkan sambal pecelnya. Saya tolak dengan halus tawaran untuk membeli sambalnya karena saya masih beberapa hari travelling di Solo. Saya hanya khawatir tak bisa menyimpan dengan baik dan membuat rasanya jadi tak enak nantinya sesampainya di Jakarta.

Kesadaran Pada Makanan Sehat

Mbok Suti mengaku sudah berjualan pecel dengan nasi merah dan sambal wijen hitam ini selama 15 tahunan. Selama itu ia hanya berjualan setengah hari saja, karena biasanya jualannya sudah laris manis selepas jam makan siang.

Pecel.jpg

 

Dari Botok Hingga Tahu Goreng Pendamping Pecel (foto dokpri)

Mbok Suti ini tipikal perempuan Jawa yang senang bekerja keras. Di usianya yang berkisar setengah abad lebih itu ia mengaku belum mau berhenti berjualan Nasi Pecel. Meski pendapatannya tak seberapa, ia senang bisa menyenangkan orang lain dengan penganan sederhana yang ia buat sendiri itu.

Membuat pelanggan senang dan tersenyum setelah memakan nasi pecelnya baginya adalah sebuah kebahagiaan tersendiri. Meski berjualan di emperan toko batik yang cukup tersohor di kota Solo, mbok Suti tak serta merta melakukan aji mumpung dengan mematok harga tinggi nasi pecelnya. Nasi pecel komplit dengan tambahan 2 potong tahu goreng ia banderol cuma 8 ribu rupiah saja.

Pecel.jpg

 

Pembeli Merubung Mbok Suti (foto dokpri)

Agak kaget juga saat membayar dengan nominal yang ‘merakyat’ itu. Saya sengaja melebihkan sedikit rupiah bukan karena pengen pamer tapi lebih pada menghargai ketulusannya saat melayani, dan menjadikan semua pelanggannya sebagai teman. Ia melayani semua pelanggannya sama, dengan keramahan dan sikap yang sama. Siapapun dia, walau ia seorang sopir yang sedang menungu majikannya berbelanja batik atau juragan dari luar kota yang kelaparan ia sapa dan layani dengan keramahan yang natural. Bukan keramahan yang artifisial yang biasa saya temukan di resto di mal atau penjaga toko di ITC Mangga Dua yang selalu menyapa semua pelanggannya sebagai “kakak” itu.

Terlepas dari sajiannya yang yummy, mbok Suti secara tak sadar sudah mengajarkan orang kota yang menjadi pelanggannya untuk hidup sehat. Tengok saja Nasi merah pecel yang dijajakannya. Bagi warga kota nasi merah adalah simbol makanan sehat yang jadi tren bagi pecinta diet. Sayur-mayur yang menjadi sajian utama dalam nasi pecelnya biasanya juga disenangi mereka yang ingin mendapatkan tubuh ideal dengan memakan protein nabati.

Mbok Suti memang bukan pakar gizi. Tapi kesederhanaan jualannya memberikan sajian bergizi yang kadang dilupakan pemburu kuliner tentang betapa pentingnya makan sayur.

*Tulisan ini juga dimuat oleh penulis yang sama di Kompasiana.

 

 

 

 

 

1,759 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Menghabiskan Senja (foto dokpri)

Menghabiskan Senja (foto dokpri)

Starbucks JIExpo. Senja belum hadir saat saya dan beberapa kawan tiba di Holiday Inn Express. Kami memang janjian dengan sejumlah teman untuk menghabiskan senja sambil ‘ngupi-ngupi ganteng’ di gerai Starbucks JI-Expo Kemayoran Jakarta Pusat. Meski biasanya akhir pekan buat keluarga, tak apalah kali ini saya gunakan untuk melepas penat setelah seminggu aktivitas.

Tak sulit mencari keberadaan store baru ini. Jika membawa mobil pribadi arahkan menuju JI-Expo, tepatnya ke pintu masuk 4. Tak perlu masuk arena pameran, susuri saja di luaran hingga tiba di Jalan Rajawali Sealatan Kemayoran. Gerai ini berada di bagian depan Hotel Holiday Inn Express.

Suasana yang agak panas di luar langsung berubah begitu masuk ke gerai Starbucks yang ke-200-an ini. Tak salah memang menjadikan gerai ini sebagai tempat ngumpul sore.  Tempatnya cozy dengan interior yang dibalut kayu di beberapa bagian. Lantainya juga didesain menyerupai kayu. Hmm… ada apa ini? Saat menoleh ke lampu di tengah store mata akan tertuju pada kap lampu berbentuk keranjang yang terbuat dari bambu. Keranjang yang biasa saya lihat di pasar induk buah Kramat Jati itu secara unik digunakan sebagai kap lampu. Kreatif.

Rupanya Starbucks memang sengaja membuat storenya seperti itu. Bukan sekedar mempercantik tapi punya alasan khusus. “Kami memang punya kepedulian pada lingkungan. Isu Go Green tidak dijadikan slogan saja, tapi diterapkan dalam store-storenya. Dan beginilah salah satu hasilnya,” jelas Rhesya Agustine, Digital Marketing Mananger  Starbucks Indonesia.

Di pojok depan gerai ini juga ada papan kayu bergambar peta. Ini bukan sembarang peta, namun sebuah ‘coffeebelt’ atau peta persebaran daerah atau negara-negara penghasil kopi di dunia. Dari peta itu kita bisa melihat dengan jelas negara kita tercinta Indonesia masuk dalam jajaran penghasil kopi dunia. Bahkan konon kabarnya kopi asli Indonesia merupakan salah satu kopi terbaik di dunia.

Edukasi Segelas Kopi

Saya sebenarnya belum lama senang dengan kopi, bahkan dulu saya tergolong pembenci kopi. Buat saya kopi itu gak asyik. Pahit, bikin mual, bikin jantung deg-degan. Namun pandangan saya pelan-pelan berubah sejak mendapat pencerahan dari master-master kopi Starbucks melalui coffe testing yang saya ikuti beberapa waktu lalu.

Hari ini di gerai baru Starbucks saya dapat lagi edukasi kopi dari master kopi Immanuel Souhoka yang akrab dipanggil Noel. Ia menjelaskan kopi House Blend yang merupakan kopi pertama yang digunakan sejak mereka buka di tahun 1971.

Noel yang juga Store Manager Starbucks JI-Expo menjelaskan bahwa level roasting biji kopi berpengaruh pada tingkat keasaman kopi. “Kopi yang tingkat roastingnya tinggi maka level keasaman (acid)nya rendah. Sebaliknya, jika kopi diracik dengan level roasting rendah maka tingkat keasamannya tinggi,” ujar Noel. Itu kenapa saat minum kopi kita merasakan derajat keasaman kopi yang berbeda-beda.

Makanya, untuk menikmati secangkir kopi pahit Noel menyarankan adanya ‘teman’ berupa sepotong roti atau cake manis, seperti croissant cokelat yang sore itu disediakan.

Untuk menyeruput segelas kopi House Blend, sebaiknya dilakukan saat kopi masih panas. Jika suhu kopi turun maka tingkat keasaman kopi akan bertambah. Ini mungkin yang menyebabkan perut sakit usai meminum kopi lantaran minum kopi saat sudah dingin.

Oiya, Noel juga mengajarkan ritual minum kopi yang benar. Pertama hirup kopi dan rasakan aromanya. Setelah itu langsung nikmati kopi hingga masuk ke rongga mulut. Paduan asam, pahit, dengan tingkat kepekatan cukup tinggi akan terasa begitu cairan kopi memenuhi langit-langit mulut hingga sampai di tenggorokan.

Mereka yang Bikin Rusuh Starbucks (foto Kang Arul)

Mereka yang Bikin Rusuh Starbucks (foto Kang Arul)

Langkah selanjutnya masukkan croissant cokelat tadi. Pertemuan rasa pahit dan asam dari kopi berpadu sempurna dengan manisnya croissant. Sejenak hilang sudah rasa pahit dan asam tadi. Indera pengecapan kita pun merasakan keseimbangan rasa.

Sebuah pengalaman menarik dan edukatif mengenai kopi.

Starbucks Not Just Coffee

Acara kami menikmati senja makin sore semakin lengkap. Selain ngupi-ngupi ganteng, ngobrolin banyak hal soal kopi, belajar mengenal aroma sekaligus belajar menikmati kopi dengan cara yang beradab. Lengkap dan puas.

Apalagi tuan rumah kemudian mengeluarkan aneka sajian teman minum kopi mereka yang terbaik dan merupakan favorit para pengunjung. Mulai dari Croissant cokelat yang manis-manis sombong. Ada pula fruit tarlet yang penuh topping buah segar, Cinnamon Roll yang wangi kayu manisnya menggoda selera, hingga tuna bread yang gurih. Wareg.

Mana Kesukaanmu? (foto dokpri)

Mana Kesukaanmu? (foto dokpri)

Aneka pastry yang saya sebut di atas baru sebagian kecil dari koleksi dapurnya, masih banyak lagi yang bisa dicoba. Ini menunjukkan bahwa mereka bukan hanya jualan kopi. Itu mengapa sejak beberapa tahun terakhir di logonya tidak ada lagi kata “Coffee” di belakang kata Starbucks. Karena mereka menjual gaya hidup bagi masyarakat urban yang menyenangi kebiasaan ngopi berjamaah di tempat publik.

Starbucks Corporation sendiri berdiri sejak 30 Maret tahun 1971 di Seattle, Amerika Serikat. Kedai kopi ini didirikan tiga sekawan yakni Jerry Baldwin, Zev Siegl dan Gordon Bowker. Hingga kini jaringan kedai kopi ini meraksasa dan bisa ditemui di lebih dari 60 negara di dunia.

Di Indonesia, Sbux yang berada di bawah manajemen PT.Sari Coffee Indonesia membuka gerai pertamanya tahun 2002 di Plaza Indonesia Jakarta. Hingga bulan Agustus tahun 2015 Starbucks sudah membuka lebih dari 200-an gerai di sejumlah kota di Indonesia.

Starbucks JI-Expo (foto rosid)

Starbucks JI-Expo (foto rosid)

Starbucks JI-Expo

Hotel Holiday Inn Express

Jl.Rajawali Selatan

Kemayoran Jakarta Pusat

2,664 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

20150730_132339

Oceanic Seabreeze. Satu lagi resto sea food ada di Ancol Taman Impian, namanya Oceanic Seabreeze seafood restaurant. Soft Opening resto ini sebeanrnya sudah dilakukan bulan Juni silam, sehari sebelum puasa. Namun baru grand opening Kamis (30/7) lalu.

Grand Opening dilakukan manajemen Seabreeze Indonesia beserta pimpinan Ancol Taman Impian, yang ditandai dengan pemotongan pita dan penandatanganan prasasti.

20150730_132559

Resto ini letaknya cukup strategis, dekat dengan pantai Carnaval dan Ancol Beach Mall. Kalau yang sering ke Ancol pasti sudah familiar dengan pantai dan mall ini. Dari pintu masuk utama Ancol tinggal belok kanan, lurus aja sampai ketemu resto ini sebelum mall. Resto ini berada di sisi pantai, dengan pemandangan indah pantai Carnaval. Pengunjung bisa memanjakan lidah dengan hidangan laut pilihan, dengan ditemani deburan ombak dan angin sepoi-sepoi yang sejuk.

Soup Seafood Kelapa Muda (foto koleksi pribadi)

Soup Seafood Kelapa Muda (foto koleksi pribadi)

Resto yang punya tagline hidangan laut dengan citarasa premium ini punya 150 jenis menu. Dari sebanyak itu ada menu-menu yang jadi andalan, diantaranya Sup Seafood Kelapa Muda. Menu ini cukup unik karena disajikan di dalam buah kelapa muda. Meski sekilas seperti es kelapa muda, namun ini bukan es. Ini murni sup seafood yang disajikan dalam kemasan kelapa muda. Di dalam batok kelapa ini tersaji udang, ikan, cumi, kerang dengan bumbu yang eksotis.

Ada dua pilihan rasa, Sup seafood kelapa muda asam manis serta seafood kelapa muda rasa pedas. Sup Seafood kelapa muda asam manis kuahnya berwarna kekuningan. Rasanya cenderung lebih manis. Sedangkan Sup seafood kelapa muda rasa pedas tampilan kuahnya lebih merah karena ada cabe rawit yang disajikan utuh-utuh. Sup ini paling cocok disantap di siang hari.

Gurame goreng telur (foto koleksi pribadi)

Gurame goreng telur (foto koleksi pribadi)

Selain itu ada pula menu andalan lain Gurame goreng telur mentega. Nah ini yang cakep tampilannya. Karena kalau gak nanya dulu gak bakal tau ini apa. Guramenya sudah dipotong-potong dan ditutupi telur yang dibentuk seperti serabut. Konon masaknya dalam waktu cepat agar telurnya bisa seperti ini.

Waktu hangout paling asyik menurut saya di sore menjelang petang. Angin sepoi-sepoi ditemani lampu-lampu di kejauhan laut menambah eksotis suasana di resto ini. Ambil duduk di pinggir resto yang berada di bawah pohon kelapa menghadap laut. Wow..

 

Oceanic Seabreeze Seafood Restaurant

Pantai Carnaval Taman Impian Jaya Ancol, Ancol

(021) 647000485

 

2,335 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Suasana Kampoeng Tempo Doeloe (foto: koleksi Pribadi)

Suasana Kampoeng Tempo Doeloe (foto: koleksi Pribadi)

Hari Jum’at lalu (5/6) bersama beberapa kawan Kompasianer Penggila Kuliner (KPK) saya manjakan lidah di perhelatan food festival Kampoeng Tempo Doeloe. Acara ini digelar di pelataran mal La Piazza, Kelapa Gading Jakarta Utara. Festival kuliner ini merupakan bagian dari hajatan besar manajemen Mal Kelapa Gading yang diberi tajuk Jakarta Fashion and Food Festival (JFFF) 2015.

Loket penjualan kartu masuk (foto: koleksi pribadi)

Loket penjualan kartu masuk (foto: koleksi pribadi)

Meski rutin digelar tiap tahun dalam rangka HUT Kota Jakarta, perhelatan besar ini tetap memesona. Khusus untuk gelaran food festival, saya melihat MKG makin tahu apa kebutuhan para penikmat kuliner. Tahun ini tema besar yang dibawa adalah Kampoeng Tempo Doeloe. Pelataran mal La Piazza disulap menjadi sebuah kampung di tepian Pelabuhan Sunda Kelapa.

Aroma kental kampung nelayan begitu terasa sejak pintu masuk di bagian depan. Replika perahu kayu milik nelayan. Meski berukuran mini namun lumayanlah menjadi penanda  tema besar festival kuliner ini. Bahkan beberapa pengunjung menggunakan sudut ini sebagai spot foto favorit.

Sementara itu panggung terbuka di bagian depan set panggungnya juga dibuat ala kampung pesisir. Potongan perahu di bagian kanan dan kiri panggung menjadi aksen yang memperkuat acara ini.

Makanannya Lazziiiis

Nah, sekarang saya akan bicara soal makanannya. Di kampung tempo dulu dijajakan ratusan jenis makanan nusantara dan mancanegara. Mulai dari ayam bakar, laksa, bakso, beragam jenis es, hingga cemilan ada di sini.

20150605_191019

Saya mengawalinya dengan segelas es cincau. Petang yang melelahkan setelah seharian bekerja memang paling pas diisi dengan minum-minuman menyegarkan seperti es cincau. Racikan es cincaunya persis dengan yang pernah saya cicipi di masa kecil dulu. Cincau hanya diberi sedikit kinca, santan dan es. Rasa manisnya tidak terlalu pekat. Es cincau  yang ini memang beda dengan cincau yang lagi hits saat ini seperti cappucino cincau yang sudah mendapat pencampuran rasa ‘barat’.

Mungkin ada yang menganggap agak aneh juga memulai jelajah rasa di sini dengan segelas es cincau. Tapi saya punya alasan. Bagi saya, es cincau adalah sepenggal kenangan masa kecil yang mesti dirawat selagi sempat.

Sate Lilit Ayam di gerai Nasi Ungu (foto: koleksi pribadi)

Sate Lilit Ayam di gerai Nasi Ungu (foto: koleksi pribadi)

Kelar dengan es cincau, saya kemudian mencoba tawaran nasi ungu sate lilit ayam. Ini adalah makanan yang direkomendasikan mbak Indri dari La Piazza. Saya tergoda dengan embel-embel “the healthy rice” yang disematkan di gerai nasi ungu. Karena penasaran dan memang belum pernah coba juga akhirnya sepiring nasi ungu dan 5 tusuk sate lilit dan sate ayam sampai di meja saya.

Perpaduan Unik, Nasi Ungu dan Sate Lilit Ayam (Foto: koleksi pribadi)

Perpaduan Unik, Nasi Ungu dan Sate Lilit Ayam (Foto: koleksi pribadi)

Nasi ungu sendiri mirip dengan nasi uduk yang gurih. Bedanya, nasi dicampur onje atau kecombrang sehingga berwarna ungu. Rasanya pun unik, aroma herbal kecombrang mendominasi di tiap sendokan. Lebih sempurna lagi makan nasi ungu dengan cocolan sambel onje yang pedas-pedas segar. Sate lilitnya sendiri meski cukup enak, tapi saya justru lebih suka dengan sate ayam biasa. Dagingnya lebih tebal.

Laksa Tangerang nan Menggoda (foto: kokeksi pribadi)

Laksa Tangerang nan Menggoda (foto: kokeksi pribadi)

Untuk satu piring nasi ungu saya hanya dibandrol Rp.10 ribu saja. Sementara 5 tusuk sate lilit ayam campur harganya 29 ribu rupiah. Karena saya ambil paket nasi ungu, sate lilit dan minuman teh, total belanja saya Rp.46 ribu. Cukup worthed.

Nasi Campur Bali.. (foto: koleksi pribadi)

Nasi Campur Bali.. (foto: koleksi pribadi)

Melipir ke sejumlah gerai tenant lainnya, saya cukup takjub juga dengan panjangnya antrian Serabi Notosuman dari Solo. Dari sekitar 170-an gerai peserta, sepertinya cuma  gerai ini yang antriannya paling panjang. Meski penggemar serabi Solo saya urungkan untuk ikut mengantri bersama puluhan orang di gerai ini. Untungnya rasa penasaran serabi Solo ini terobati oleh tawaran mbak Indri yang membeli cukup banyak kudapan khas Solo ini. Lumayan tak perlu antri.

La Piazza Riuh Oleh Pengunjung Kampoeng Tempo Doeloe (foto: koleksi pribadi)

La Piazza Riuh Oleh Pengunjung Kampoeng Tempo Doeloe (foto: koleksi pribadi)

Oiya, selain nasi ungu tadi, akhirnya saya pesan ayam bakar Ngebul untuk dibawa pulang. Ini saya pesan setelah melihat gerai ini selalu ramai pembeli. Biasanya keriuhan bisa menjadi indikator ‘rasa’, dan ternyata benar adanya sesampai di rumah. Ayam bakar yang saya pesan satu pedas dan satunya lagi manis. Daging ayamnya lembut, bumbu kecapnya pas, juicy.

JFFF Kukuhkan La Piazza Sebagai Pusat Kuliner

Melihat gelaran Jakarta Fashion and Food Festival tiap tahunnya, saya melihat penyelenggaraannya makin baik. Tema acara yang dipilih tahun ini lebih pas dan gerai makanan peserta festival pun lebih beragam. Ini mengapa jumlah pengunjung selalu membludak di tiap pelaksanaan food festival.

Panggung Besar di tengah Kampoeng Tempo Doeloe (foto: koleksi pribadi)

Panggung Besar di tengah Kampoeng Tempo Doeloe (foto: koleksi pribadi)

Tahun ini jumlah peserta sendiri lebih banyak dari tahun lalu. Tempat makannya pun kini lebih luas dan menyebar ke sisi depan La Piazza.

Dengan konsistensi yang penyelenggara pegang tiap tahunnya, La Piazza sudah mengukuhkan diri sebagai destinasi wisata kuliner wajib kunjung di ibukota.

Oiya satu hal yang menarik dari pelaksanaan Kampoeng Tempo Doeloe adalah banyaknya tempat sampah yang disediakan oleh panitia di lokasi acara. Di sela meja-meja tempat makan kita akan mudah menemui tempat sampah besar yang bisa digunakan pengunjung. Ini penting dan saya cukup mengapresiasi hal ini, karena menunjukkan kepedulian penyelenggara terhadap lingkungan.

141511892434256010

3,310 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Festival Kuliner Serpong 2014 baru saja usai digelar. Kalender tahunan yang dihelat Sumarecon Mal Serpong ini sepertinya bakal jadi agenda yang wajib dikunjungi para penggemar kuliner nusantara. Saya sempat hadir di sebuah Sabtu, saat mentari mulai menyingkir, suasananya berasa nyaman. Festival sengaja digelar di area terbuka (outdoor) di lapangan parkir Sumarecon Mal Serpong. Pilihan lokasi Read More →

834 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini