All Peserta, panitia dan tuan rumah KB 20 (foto dokpri)

Akhir pekan lalu, tepatnya Sabtu 24 Februari 2018, Kelas Blogger kembali mengadakan workshop bagi blogger bertema Street Photography dengan pembicara Kang Dudi Iskandar, seorang street photographer yang juga Kepala Sekolah Kelas Blogger.

Gelaran KB ke 20 ini digelar di sebuah coworking space keren JSC Hive di kawasan Kuningan, Jakarta. Ini dimungkinkan lantaran dalam Kelas kali ini penyelenggara menggandeng @C2Live , @EVhive dan juga @BerryKitchen.

Acara yang diikuti 30 orang peserta dari berbagai latar belakang ini makin seru karena dipandu MC @Agiljolie .

MC @Agiljolie dan COO C2Live @enrickoman (foto @adhealbian)

COO C2Live, Enricko Lukman yang hadir dalam kesempatan tersebut mengatakan pihaknya mendukung acara ini karena ingin menjadi bagian dari perkembangan blogger di Indonesia. C2Live sejauh ini baru melakukan dua kerjasama dengan komunitas blogger. Ke depan pihaknya akan memberikan kesempatan yang makin terbuka bagi komunitas lain untuk bekerja sama.

Mengenai C2Live sendiri, menurut Enricko C2Live adalah sebuah platform yang dibuat untuk mewadahi blogger memasarkan isi blognya secara lebih luas. C2Live itu semacam content agregator yang memungkinkan blogger menitipkan link postingannya agar makin luas tingkat keterbacaannya.

Jadi buat kamu para blogger jangan ragu untuk register blogmu di C2Live . Karena dengan bantuan C2Live maka postinganmu berpotensi dibaca lebih luas lagi.

Street Photography Itu Mudah

Masuk ke sesi utama, @kangdudi_ Dudi Iskandar membawakan materi menarik mengenai street photography atau fotografi jalanan. Ini adalah sebuah aliran fotografi yang terus berkembang, di mana obyek fotonya diambil di ruang-ruang publik.

@Kangdudi_ di depan peserta KB 20 (foto dokpri)

Karena mengambil obyek foto di ruang publik bukan berarti semua benda mati yang dijadikan obyek foto. Justru sebaliknya, street photography memotret aktivitas manusia di ruang publik. Jadi street photography ini lebih dekat dengan persoalan human interest.

Kang Dudi sendiri yang tinggal tak jauh dari stasiun kereta api, kerap menjadikan aktivitas di stasiun kereta api sebagai obyek fotonya. “Aktivitas di stasiun kereta api kerap menjadi inspirasi saya. Karena di sini saya bertemu dengan ragam manusia dengan beragam aktivitasnya. Ini berlangsung sepanjang hari,” begitu kang Dudi beralasan saat ditanya mengapa banyak karya fotonya bertema aktivitas di stasiun kereta api.

Foto yang bagus itu foto yang dipublish bukan disimpan (foto dokpri)

Menurut Kang Dudi membuat foto jalanan itu mudah. Ia menyarankan, saat hunting untuk membawa kamera yang mudah dibawa.  Membawa kamera berukuran besar tidak disarankan, karena akan mengganggu mobilitas saat hunting obyek.

Yang kedua, pertajam semua indera yang kita miliki. MIsalnya menajamkan mata melihat obyek menarik dan tak biasa sepanjang perjalanan. Ambil berbagai angle agar foto yang dihasilkan punya variasi angle atau sudut pengambilan.

Ketiga, membaur dengan obyek foto. Ini akan memudahkan saat mengcapture momen. Jika diperlukan ajak obyek foto berkomunikasi untuk menghasilkan foto yang natural. Di beberapa kasus kulo nuwun atau minta ijin pada obyek foto juga diperlukan agar obyek tak merasa di’curi’.

Kelar memberikan materi, Kang Dudi menantang peserta untuk membuat foto jalanan dengan obyek di sekitar jalan dokter Satrio Kuningan. Waktu yang diberikan hanya 30 menit. Namun terbatasnya waktu tak menghalangi kreasi para peserta untuk menghasilkan foto-foto jalanan yang menarik

Makan siang dari Berry Kitchen (foto @chahakim)

Selepas hunting dan istirahat peserta mendapat kejutan dari @Berrykitchen berupa satu paket makan siang. hmmm…lezatnya. Terima kasih @Berrykitchen , makan siangnya enak.

Ajang KB 20 ini juga dimanfaatkan untuk memperkenalkan Kepala Sekolah Kelas Blogger yang baru, yakni @Mhkholis , menggantikan @kangdudi_. Kholis selama setahun ke depan akan menjadi nakoda KB dibantu @coretanmasdede . Selamat…

Kepala Sekolah Kelas Blogger yang baru MH Kholis (foto @puntow78)

Di penghujung acara diumumkan nama-nama peserta yang memenangkan tantangan twitter dan Instagram. Mereka mendapatkan hadiah berupa merchandise dari C2Live.

1,476 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Proses Cek In di Aston Rasuna Hotel (foto dokpri)

Aston Rasuna Hotel. Pekan silam saya bersama beberapa kawan blogger mendapat undangan mas Teguh Sudarisman mengikuti workshop setengah hari mengenai Travel Videografi  2.0 di Aston Rasuna Jakarta. Ini adalah lanjutan workshop serupa yang pernah saya ikuti. Jika di 1.0 pematerinya adalah mas Teguh Sudarisman langsung, maka di  workshop kali ini pematerinya adalah Dudi Iskandar, seorang street fotografer yang belakangan juga asyik menekuni pembuatan video.

Muhammad Isa Ismail, GM Aston Rasuna Hotel yang membuka workshop ini mengatakan, pihaknya mengapresiasi kegiatan kreatif yang dilakukan Teguh Sudarisman dan kawan-kawan yang tergabung dalam Rasuna Creative Center. Menurutnya, kegiatan semacam ini membawa dampak positif bagi banyak kalangan yang meminati kegiatan kreatif. Bagi Aston Rasuna sendiri kegiatan yang mengambil tempat di hotel tersebut memberi sumbangan konten yang signifikan.

M.Isa Ismail, GM Aston Rasuna Hotel (foto dokpri)

Ada beberapa poin yang saya catat dari paparan kang Dudi. Menurut kang Dudi, membuat video pada dasarnya mirip dengan kegiatan memotret. Butuh pengetahuan dasar mengenai pengambilan gambar seperti memahami pencahayaan, komposisi serta memelihara insting terhadap obyek.

Terkait teknis, Kang Dudi berpesan agar membedakan pembuatan video menggunakan smartphone dibandingkan dengan menggunakan kamera DSLR atau mirrorless. Untuk smartphone usahakan tiap shoot hanya berdurasi 5-10 detik saja. Ini akan memudahkan dalam pengeditan.

Kang Dudi in action (foto dokpri)

Fitur dari kamera di smartphone juga wajib dikenali dan dalami, karena masing-masing smartphone memiliki karakteristik kamera dengan fitur-fitur yang berbeda.

Soal pencahayaan, kang Dudi memberi sejumlah tips. Kenali arah datangnya cahaya, karena ini akan berpengaruh pada hasil pengambilan gambar. Yang paling mudah adalah memanfaatkan cahaya alami matahari. Matahari memiliki efek berbeda dalam hal hasil pengambilan gambar. Cahaya pagi hingga pukul 10 tentunya berbeda dengan cahaya di siang hari atau sore hari.

Jika harus mengambil gambar di dalam ruangan perhatikan cahaya bantuan yang bisa berupa lampu ruangan atau lampu (lighting) pelengkap. Untuk lighting artifisial bisa dikreasikan dari berbagai macam jenis lampu. Yang murah meriah adalah gunakan senter untuk membantu pencahayaan atau menggunakan lampu khusus fotografi yang beragam jenis dan harganya.

Merekam Proses Cek In di Hotel

Bagian paling chalenging dalam workshop ini adalah saat kami dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk membuat video bagaimana “hotel bekerja”. Terus terang ini kali pertama saya membuat travel video di hotel. Selama ini saya lebih sering mendokumentasikan persinggahan saya di hotel melalui foto. Dan lebih ‘menegangkan’ lagi di kelompok ini saya mendapat arahan langsung dari sang suhu, mas Teguh Sudarisman. Wow.

Lobby Aston Rasuna bernuansa Imlek (foto dokpri)

Kebetulan kelompok saya cuma beranggotakan 3 orang Vlogger dengan ketua rombongan mas Teguh dan satu model Marcelina Sutanto sang @pejalankece. Ini adalah satu-satunya kelompok yang menggunakan model ‘profesional’ untuk pengambilan gambar.

Kami melakukan pengambilan gambar untuk proses check in di Hotel Aston Rasuna, mulai dari kedatangan tamu, check in hingga diantar ke kamar. Untuk pengambilan gambar memang tak bisa sembarangan, kami sepakat mengambil gambar dari satu sisi yang sama. Jika ada yang ingin mengambil gambar dari sisi berbeda harus dikomunikasikan terlebih dulu dengan sesama Vlogger dan model.

Foto ‘keluarga’ bareng model dan tim (foto dokpri)

Namanya juga shooting dengan model kami semua harus sama-sama sabar. Sabar jika adegan yang diambil kurang sehingga harus  diulang. Sabar bergantian mengambil posisi karena posisi model berada di sudut yang sempit.

Meski kerap mengulang adegan, sebagai model Marcel sangat menghayati perannya. Ia selalu memasang wajah ceria agar para vlogger di kelompok ini terpenuhi stok gambarnya. Pengulangan adegan bahkan bukan hanya permintaan Vlogger namun juga kadang dari Marcel sendiri yang merasa blocking-nya kurang pas.

Meski terhitung sebagai kelompok dengan durasi pengambilan gambar terlama, namun proses pengambilan gambarnya sendiri sangat menyenangkan. Penuh tawa, sesekali saling meledek menjadi bumbu yang menyegarkan suasana.

Oiya, kelompok kami mengambil gambar di sejumlah spot Aston Rasuna Hotel, seperti di halaman pintu masuk depan hotel, lobby, sekitar Lift, hingga kamar dan balkon di lantai 32. Selama proses pengambilan gambar kami juga dibantu kru Aston Rasuna yang berperan sejak proses check in selesai hingga mengantarkan tamu ke kamar di lantai 32. Keramahan layanan Aston Rasuna sangat terasa dari bantuan kru di kelompok kami. Si mas Aston (sorry namanya lupa) amat telaten, sabar dan selalu mengumbar senyum selama proses pengambilan gambar yang cukup melelahkan. Ia begitu senang dan tulus membantu proses pengambilan gambar hingga selesai.

Proses shooting diakhir dengan sesi foto bareng di balkon kamar di lantai 32 serta ‘beradegan ranjang’ all of crew.

Beradegan ranjang usai shooting (foto Teguh Sudarisman)

Oiya, usai pengambilan gambar kami langsung diarahkan untuk mengedit gambar di tkp menggunakan aplikasi Power Director (PD). Beruntungnya saya sudah menguprade PD di smartphone saya menjadi premium, sehingga lebih oke karena tak ada lagi watermark di hasilnya. Sayangnya saya gagal mentransfer video saya ke laptop Kang Dudi untuk dilihat bersama. Video baru saya share lewat Youtube setiba di rumah.

Terima kasih mas Teguh, kang Dudi, Marcel sebagai model dan pak Isa serta semua kru Aston Rasuna Hotel yang telah mengemas workshop videography 2.0 kali ini menjadi menarik dan menyenangkan.

Dan inilah hasil workshop Check in di Aston Rasuna Hotel dari sisi saya. Meski belum sempurna, saya merasa ada progress dibandingkan workshop sesi pertama sebelumnya.

https://youtu.be/6QC32DzgOZ0

1,729 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Papan Bahasa Isyarat di Badan Bahasa (foto dokpri)Kamu orang Indonesia? Suka berbahasa Indonesia?

Pertanyaan yang menohok jika ada yang mempertanyakan ke-Indonesiaan kita.

Meski agak marah jika dipertanyakan ke-Indonesiaan kita, namun jujur soal berbahasa Indonesia sesuai kaidah saya mungkin masih jauh panggang dari api.

Makanya saat diajak mengikuti tes Uji Kemampuan Berbahasa Indonesia (UKBI) pekan lalu saya langsung setuju. Karena kemampuan bahasa Indonesia saya jauh dari baik makanya saya sambut ajakan tersebut.

Dua puluhan orang berbagai profesi yang dikoordinir oleh Kelas Blogger, 10 Mei lalu mengikuti tes UKBI di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud, Rawamangun Jakarta. Pemberitahuan untuk mengikuti tes ini agak mendadak dari Badan Bahasa. Hanya sehari Kelas Blogger diberi waktu mengumpulkan 20-an orang untuk ikut UKBI.

Agak pesimis awalnya, namun ternyata kecintaaan pada bahasanya sendiri membuat beberapa blogger mesti menunda sejumlah acara, atau ijin setengah hari kerja pada atasan. Bahkan pasangan Fauzi Nurhasan dan Rani rela berangkat menjelang subuh dari Bandung untuk mengikuti tes ini. Luar biasa atensi para peserta. Padahal untuk mengikuti tes ini tidak gratis. Penyelenggara menetapkan biaya sebesar Rp.20K. Cukup murah, setidaknya jika dibandingkan biaya tes kemampuan bahasa asing.

Sebelum tes, pihak Badan Bahasa memberikan sosialisasi mengapa tes ini digelar bagi orang Indonesia. Menurut Badan Bahasa tes ini sama dengan tes TOEFL atau TOEIC dalam bahasa Inggris. Hasil tes digunakan untuk mengetahui kemampuan berbahasa dari seorang peserta.  Jika TOEFL digunakan untuk keperluan pekerjaan atau sekolah di dalam dan luar negeri, ke depan tes UKBI bakal diwajibkan bagi Pegawai Negeri Sipil yang hendak mendapat promosi atau pejabat yang akan mengemban amanah di posisi barunya.

Secara umum tes UKBUI mirip dengan tes sejenis di bahasa asing. Ada 5 seksi (bagian) tes yang 3 diantaranya menggunakan format pilihan ganda. Seksi pertama, uji pendengaran. Kedua, merespon kaidah. Ketiga, membaca. Di seksi keempat, tes dilakukan dengan menulis. Sementara di seksi kelima ada tes bicara.

Saya dan teman-teman peserta UKBI kemarin hanya sampai pada seksi keempat, menulis atau menguraikan sebuah gambar dengan kata-kata.

Secara umum, bagi saya UKBI merupakan tes yang menarik. Bagi pecinta literasi atau dunia tulis-menulis tes semacam ini jelas sangat membantu mengukur kemampuan berbahasa. Tidak hanya bahasa percakapan namun juga bahasa tulis.

Kesimpulan dari tes UKBI kemarin, ternyata kemampuan berbahasa Indonesia saya masih harus terus diasah. Tidak ada kata terlambat untuk membenahi kemampuan berbahasa Indonesia kita. Karena kita orang Indonesia, mesti bangga dan peduli pada kemampuan berbahasa kita.

6,486 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

Rumah Dunia. Agak provokatif memang judul artikel ini. Apa benar dengan menulis seseorang bisa jadi pengusaha? Bukankah dunia penulisan habitatnya berjauhan dengan dunia usaha? Begitu yang ditanyakan sejumlah teman penulis Banten, saat workshop Kelas Blogger bertema Bloggerpreneur digelar, Minggu (14/2) di Rumah Dunia, Serang. Kalau pertanyaan itu dijawab dengan menyodorkan sejumlah nama penulis beken macam Read More →

3,304 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Blog (aumber: http://www.blogherald.com/2013/12/10/4-things-look-blog-theme/)

Blog (sumber: http://www.blogherald.com/2013/12/10/4-things-look-blog-theme/)

Ada pertanyaan menarik dari seorang blogger Bandung di sebuah acara sharing mengenai Reportase ala Blogger, beberapa pekan lalu. Si blogger mengaku belum terlalu lama nge-blog dan punya persoalan dalam ‘gaya’ atau style tulisan. Ia merasa gaya tulisannya kaku, tidak mengalir seperti blogger lainnya yang kerap ia temukan.

Menurutnya, hal ini kadang membuatnya tidak pede mempublish sebuah tulisan di blog. “Saya khawatir tulisan saya ditertawakan orang, dianggap tak mutu lah,” begitu antara lain keluhan si blogger.

Apa yang dikeluhkan blogger tersebut bukan pertama kali saya dengar. Beberapa kawan juga pernah mengeluhkan hal serupa. Biasanya, ini dialami blogger yang jam terbangnya di dunia blogging belum terlalu lama.

Sulit-sulit mudah menjawab pertanyaan ini. Tapi saya tak akan memberikan jawaban sulit. Kalau ada yang mudah kenapa harus dipersulit. Dan yang paling mudah adalah menyarankan pada siapapun yang mengalami ini untuk terus menulis. Buat saya jauh lebih penting memelihara semangat menulis ketimbang memikirkan style tulisan.

Jauh lebih baik untuk terus menulis karena apa dan bagaimanapun bentuk tulisan kita itu adalah hasil karya kita sendiri. Dengan berjalannya waktu, dengan makin banyaknya jam terbang menulis kita, maka perlahan kemampuan kita makin terasah. Gaya tulisan kita makin terbentuk.

Butuh Latihan

Karena menulis mesti terus diasah, tidak ada resep yang cespleng seperti minum obat. Menulis itu butuh latihan. Bukan hanya si bloggernya saja yang butuh piknik, menulis itu butuh latihan dan latihan.

Sepanjang kita mau terus meningkatkan diri dengan berlatih maka gaya menulis itu bakal terbentuk dengan sendirinya. Saya sendiri butuh waktu yang tidak sebentar hingga merasa nyaman dengan gaya menulis saat ini.

Jauh sebelum bergelut dalam dunia blogging saya sempat mendalami bidang junalistik cetak dan televisi. Di media cetak saya terbiasa menulis dengan deskripsi panjang lebar. Sebuah tema sederhana mengenai kue cubit misalnya, di tangan wartawan cetak akan bisa diurai hingga 5-6 halaman ketikan. Mulai dari apa itu kue cubit, kenapa saat ini jadi trend, dan apa saja topping kue ini sehingga jadi cemilan yang hits.

Sementara bagi mereka yang berada di tv, topik  yang sama bisa jadi hanya butuh durasi paling panjang 3 menitan, dengan naskah yang tak seberapa panjang.

Bagaimana dengan gaya tulisan di kedua platform media tersebut? Media cetak jelas punya banyak ruang untuk menjelaskan sebuah topik lebih terperinci, gaya tulisannya relatif lebih banyak, bisa menggunakan kaidah penulisan jurnalistik yang diyakini para wartawan turun temurun. Bisa pula menggunakan style penulisan yang lebih mengedepankan fakta keras (straight news).

Beda dengan media tv. Durasi jadi persoalan yang sebenarnya cukup membatasi ruang para jurnalis maupun penulis naskah tv untuk berkreasi. Menulis menjadi sangat pendek, tidak mendalam, deskripsi tidak perlu terlalu ‘rigid’ karena sudah dibantu oleh gambar-gambar video yang menjelaskan banyak hal.

Apakah tulisan di TV menyalahi kaidah penulisan? Tidak. Lalu, apakah tulisan di koran edisi minggu yang ditulis panjang lebar jauh lebih baik dari tulisan di TV? Tidak juga. Sebab tiap platform media punya gaya dan masing-masing jenis media juga punya pengaruh.

Tips Penting

Untuk bisa menemukan gaya tulisan yang ‘kita banget’ ada tips sederhana yang mungkin berguna.

Pertama, tulislah sebanyak mungkin konten orisinal dari hasil pemikiran sendiri. Merangkai sebuah fakta menjadi tulisan butuh ketrampilan tersendiri. So, kalau kita sudah berhasil mewujudkan sebuah tulisan yang ‘bercerita’ maka anda sudah berada di track yang tepat.

Tema orisinal tak perlu topik yang rumit, tak perlu soal politik kenegaraan atau soal-soal besar di negeri ini. Tema bisa tentang apa saja. Minat dengan parenting, bisa menulis tentang hubungan anak-ortu di era gadget. Suka kulineran, buatlah review tempat makan asyik di sekitar kita. Tak perlu resto mahal dan berkelas. Review tempat makan bisa dilakukan mulai dari kelas warteg hingga resto kelas atas. Yang penting bukan restonya, tapi bagaimana  kita mendeliver pesan mengenai kuliner yang kita cicipi sehingga  sampai di ‘hati’ pembaca.

Kedua, tulislah sesuai minat dan kemampuan sendiri. Suka gadget ya konsentrasilah di bidang itu. Jika keranjingan jalan-jalan maka menulislah seputar traveling. Jangan ubah minat anda hanya karena di luaran sedang banyak dibutuhkan genre blog tertentu.

Ketiga, jangan pernah tergiur mempunyai gaya tulisan seperti Hazmi Srondol atau Chika Nadya. Sudahlah, mereka itu seleb blog yang sudah punya style tersendiri dan blogger lain tak perlu mencontek gaya menulis mereka.

Terinspirasi gaya menulis para seleb blog boleh-boleh saja, tapi jangan menirunya. Haram hukumnya. Percayalah tak ada gaya yang sama di dunia. Makin otentik atau orisinal gaya yang kita buat, maka makin banyak orang yang penasaran dengan postingan kita.

Pelajari bagaimana mereka membuat sebuah tulisan, menuangkannya menjadi sebuah postingan kece. Tetaplah jadi diri sendiri, dengan style bentukan sendiri.

Keempat, jangan pernah copas. Copas itu merusak kemampuan menulis karena semuanya sudah tersedia di blog orang lain dan anda tinggal copy dan paste di blog pribadi. Mengcopas juga berarti membuat kita tak kreatif menciptakan style berbahasa sendiri. Kita jadi terjebak pada gaya bahasa orang lain. Lagipula, malu ah copas. Nagku-ngaku karya kita, padahal…

Sekian.

4,985 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

Narsis sambil teteup update (foto koleksi pribadi)

Narsis sambil teteup update (foto koleksi pribadi)

Bukber BRID. Acara buka bersama komunitas Blogger Reporter Indonesia (BRID) digelar hari Selasa (7/7), di Warung Daun, Jakarta Pusat. Sekitar 50 orang anggota BRID hadir dalam hajatan ini. Sebenarnya tidak ada tema khusus dalam acara buka puasa bersama ini. BRID sengaja memanfaatkan ini sebagai ajang silaturahmi antar admin dengan anggotanya, karena sudah cukup lama BRID sebagai organisasi tak menggelar kumpul blogger semacam ini.

Curhat ala BRID.. (foto koleksi pribadi)

Curhat ala BRID.. (foto koleksi pribadi)

Acara ini memang sengaja ‘cuma’ mengundang 50 orang anggota BRID, bukan karena pilih-pilih tapi lebih karena keterbatasan waktu menyatukan para blogger di musim acara bukber belakangan ini. Sebab lainnya adalah sangat sulit mencari tempat yang cukup representatif dalam waktu singkat di Jakarta. Apalagi ada ketentuan mesti digelar di kawasan Pusat Jakarta, tak jauh dari kantor Indosat sebagai pendukung acara.

Masih duduk anteng karena belum buka puasa (foto koleksi pribadi)

Masih duduk anteng karena belum buka puasa (foto koleksi pribadi)

Super admin Hazmi Fitriyasa a.k.a Hazmi Srondol berterima kasih pada semua anggota BRID yang hadir karena mau bersusah payah menembus kemacetan demi sebuah silaturahmi. Apalagi BRID sendiri lama tak menggelar gathering akbar seperti ini.

Super Admin in action (foto koleksi pribadi)

Super Admin in action (foto koleksi pribadi)

Srondol mengaku kagum dengan sikap anggota yang selama ini sangat mendukung aktivitas BRID. Baik saat bekerja sama dengan pihak ketiga maupun memberikan dukungan pada isu-isu terkini terkait aktivitas perbloggingan. Seperti dukungan terhadap kasus kriminalisasi yang menimpa seorang tokoh internet Indonesia, Indar Atmanto. Dukungan semangat para blogger ditunjukkan tidak hanya melalui tulisan di blog, namun juga pada aktivitas di social media.

Sementara itu istri pak Indar, Ami Atmanto yang juga hadir dalam bukber mengucapkan terima kasih atas dukungan para blogger selama ini. Ia juga meminta para blogger tetap mengawal kasus ini karena masa depan dunia perbloggingan bisa dipengaruhi putusan hukum dalam kasus ini.

Yeni Wahid, tamu yang mengejutkan (foto koleksi pribadi)

Yeni Wahid, tamu yang mengejutkan (foto koleksi pribadi)

Saat acara berlangsung ada kejutan kecil dengan hadirnya Yenny Wahid, putri Presiden RI ketiga Abdurahman Wahid. Yenny yang juga aktivis politik ternyata hadir sebagai kawan dekat keluarga Indar Atmanto. Ia sengaja hadir untuk memberikan dukungan pada kasus tersebut sekaligus bersilaturahmi dengan para blogger.

Dosen galau mendadak ustad (foto koleksi pribadi)

Dosen galau mendadak ustad (foto koleksi pribadi)

Acara bukber sendiri diselingi tausiyah dari ‘ustad’ gaul nan galau, Kang Arul.  Selain itu juga ada sesi lomba testimoni mengenai BRID dan live tweet. Lomba testimoni dimenangkan Nunik Utami, sedangkan live tweet diraih oleh Deny Andis. Ke depan, masih ada agenda lain yang lebih seru yang bakal digelar oleh BRID, salah satunya adalah lomba reportase acara bukber berhadiah gadget keren.

4,148 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Suatu siang di Taman Kota, BSD City. Hari belum terlalu terik manakala saya tiba. Tidak seperti di pagi hari yang biasanya riuh oleh warga yang jogging, siang itu relatif sepi. Di salah sudut, anak-anak terlihat riang bermain ayunan. Sesekali mereka berlarian. Kali lain mereka tertawa, lepas. Ternyata kebahagiaan bagi anak-anak itu cukup sederhana. Tak perlu Read More →

3,418 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Post Navigation