Peluncuran BukuOn di Jakarta (foto: Syaifuddin)

Peluncuran BukuOn di Jakarta (foto: Syaifuddin)

Buku dan minat baca adalah dua hal yang masih jadi masalah di negeri ini. Mahalnya harga buku fisik menjadi pembenaran mereka yang enggan atau tak mampu membeli buku fisik. Kenyataan ini menjadi salah satu penyebab mengapa minat baca di Indonesia masih rendah.

Anehnya, meski banyak yang mengganggap harga buku mahal namun kenyataannya banyak kalangan yang mau dan rela menyisihkan uangnya yang (konon) terbatas untuk membeli pulsa telepon genggam atau berburu gadget tercanggih yang harganya selangit. Ini semua karena dunia internet telah menjadi bius yang luar biasa, melenakan banyak tingkatan usia.

Dalam kondisi demikian memang tak bisa mengharapkan harga buku jadi lebih murah, sebab ongkos percetakan terus naik, kertaspun harganya makin mahal. Lalu bagaimana dengan masalah minat baca? Apakah bakal tinggal kenangan soal minat baca ini? Apakah kita yang peduli soal ini harus menyerah pada kondisi mahalnya harga buku fisik?

Menyerah pada keadaan jelas bukanlah solusi. Apalagi fakta menunjukkan Indonesia tergolong sebagai negara yang produktifitas dalam bidang penerbitan masih rendah, cuma 18 ribu judul buku pertahun. Bandingkan dengan Jepang yang sudah mencapai 40 ribu judul, India 60 ribu judul dan Cina 140 ribu judul.

Dan Rabu siang di Jakarta sebuah solusi mengatasi mahalnya harga buku coba ditawarkan Indosat M2 dengan diluncurkannya toko buku digital (tobudig) BukuOn. Peluncuran BukuOn dihadiri kalangan media, blogger, penulis serta penerbit yang telah menjalin kemitraan dengan BukuOn.

Direktur Keuangan dan Administrasi Indosat M2, Hulman Sijabat mengatakan, kehadiran toko buku digital BukuOn diharapkan membantu masyarakat yang membutuhkan buku tanpa halangan jarak, biaya dan waktu. “Selain nyaman, membeli buku secara digital di BukuOn lebih murah dan mendukung gaya hidup ramah lingkungan, karena akan menurunkan penggunaan kertas yang berarti menyelamatkan hutan.”

Apa bedanya BukuOn dengan tobudig lainnya? Pertama, BukuOn memiliki fitur teknologi resumable download. Fitur ini memungkinkan proses pengunduhan (download) berkelanjutan saat terjadi interupsi koneksi internet. Jadi pelanggan tak perlu mengunduh ulang. Proses pengunduhan bisa diteruskan dari posisi terakhir.

Kedua, pembelian buku di BukuOn dapat dilakukan secara parsial. Pembelian buku bisa dilakukan sesuai kebutuhan, dalam versi lengkap, per bab maupun per segmen. Artinya, bisa lebih hemat sesuai kebutuhan dan tentunya sesuai kantong.

Ketiga, BukuOn memberikan jaminan keamanan optimal bagi pembeli buku, penulis dan penerbit. Buku digital yang diunduh tersedia dalam format proprietary bukan pdf, sehingga file buku tidak bisa digandakan dan hanya bisa diakses melalui aplikasi BukuOn.

Aplikasi BukuOn untuk sementara baru bisa diakses melalui gadget berplatform android yang bisa diinstal melalui Google Play Store. Nantinya aplikasi BukuOn juga bisa dinikmati melaui iOs, Mac dan Windows PC.

Untuk dapat menggunakan aplikasi BukuOn, pelanggan cukup registrasi dan akan mendapatkan pin aktivasi melalui email. Setelah disetujui, pelanggan bisa membeli ribuan buku dan konten digital di BukuOn dengan harga antara Rp.5.000 hingga Rp.100.000. Dan untuk bertransaksi di BukuOn, pelanggan diharuskan melakukan top up deposit uang melalui Dompetku yang bisa ditransfer melalui semua bank di seluruh Indonesia.

Menjaring Konten Berkualitas

Guna menjaring konten berkualitas, BukuOn juga menggandeng asosiasi Blogger Reporter Indonesia (BRID) sebagai mitra penyedia konten. Usai peluncuran BukuOn, dilanjutkan dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) atau Nota Kesepahaman antara BukuOn dengan BRID yang diwakili sang pendiri, Hazmi Srondol.

BRID dijadikan mitra oleh BukuOn karena dianggap memiliki jaringan blogger penulis yang tersebar di sejumlah kota di Indonesia yang selama ini eksis menerbitkan tulisan melalui blog di internet. Pendiri BRID Hazmi Srondol mengatakan, kehadiran BukuOn akan menjadi mitra strategis bagi penulis, utamanya blogger yang selama ini berobsesi menerbitkan hasil tulisannya namun terkendala banyak hal.

“Selama ini banyak tulisan blogger yang sulit dibukukan karena kendala panjangnya antrian di penerbitan major label dan biaya yang relatif besar untuk menerbitkan sendiri,” ujar Hazmi. Kehadiran BukuOn akan jadi jembatan yang apik bagi blogger yang ingin menerbitkan tulisannya menjadi buku. Ini juga sekaligus menambah pintu pendapatan dari kegiatan menulis.

Bagi BRID penandatanganan MoU ini menjadi sejarah baru pengakuan terhadap kiprah blogger dalam dunia penulisan. Sebagai organisasi yang belum lama hadir, jelas ini merupakan kehormatan besar dan tantangan yang mesti dijawab dengan menghadirkan konten berkualitas.

@syai_fuddin

1,362 kali dilihat, 0 kali dilihat hari ini