Buku Kompasiana (foto: koleksi pribadi)

Buku Kompasiana (foto: koleksi pribadi)

Judul Buku : Kompasiana Etalase Warga Biasa
Pengarang : Pepih Nugraha
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Pertama (Oktober 2013)

Saat mengetahui buku dengan judul “Kompasiana Etalase Warga Biasa” terbit, ingatan saya melayang pada ‘keterlibatan’ saya di awal kehadiran Kompasiana di tahun 2008. Waktu itu saya hanya ‘penonton’ di luar arena Kompasiana yang masih mengusung jargon “Journalist Blog”. Tulisan-tulisan yang menarik dari jurnalis kawakan, memaparkan peristiwa dibalik berita yang tak mungkin dibaca di media mainstream.

Namun bukan itu persoalan utamanya. Hanya bisa membaca tulisan-tulisan jurnalis Kompas dan sejumlah blogger tamu menurut saya adalah siksaan yang menyakitkan. Rasa geram karena hanya bisa berada di latar luar akhirnya terobati setelah Kompasiana ‘membuka diri’ mempersilakan blogger yang notabene adalah warga biasa untuk masuk, menampilkan tulisannya dalam panggung yang sama dengan jurnalis Kompas lainnya.

Kesempatan itu tak saya sia-siakan dan postingan saya pun bisa berada di Kompasiana. Yes, mimpi saya menulis di Kompas akhirnya mewujud, meski kali ini bukan di Kompas cetak tapi di Kompasiana yang online. Tak apalah.

Kala itu postingan saya berjudul Media dan Pemberitaan Amrozy menjadi postingan pertama saya di Kompasiana. Berbeda dengan sekarang, semua postingan saat itu masih dimoderasi oleh sang admin Pepih Nugraha.

Mimpi semacam itu ternyata bukan hanya milik saya. Kemudian berbondong-bondonglah warga biasa masuk ke dalam atmosfer Kompasiana. Jumlah blogger dari yang semula hanya bisa dihitung dengan jari tangan, kini sudah mencapai 170.000 penulis. Tidak semua aktif memang, karena ada blogger yang datang dan pergi. Tapi itu biasa, sesuai dengan habit di media sosial yang tak pernah memaksa orang singgah, begitu pula tak meminta orang untuk pergi.

Kompasiana memang akhirnya menjadi ‘rumah’ berteduh banyak orang (biasa disebut Kompasianer). Di sini tumbuh bakat-bakat baru, bersanding dengan para blogger kawakan yang sebelumnya ‘berumah’ di tempat lain. Kompasiana juga menjadi ajang menepikan tulisan sejumlah jurnalis yang tak tertampung di media asalnya. Pendek kata, Kompasiana menjelma menjadi rumah bagi semua, tanpa ikatan, tanpa memandang asal.

“Kompasiana” Bak Pedang Bermata Dua

Membaca buku “Kompasiana Etalase Warga Biasa” karya Pepih Nugraha ini kita seperti diajak membuka diary (buku harian) penulisnya. Pepih dengan pengalaman panjangnya sebagai wartawan Kompas adalah pencerita yang hebat. Buku ini disusun bukan berdasarkan kronologis berdirinya Kompasiana, karena memang tak dimaksudkan sebagai buku sejarah berdirinya Kompasiana. Pepih sebagai penggagas, admin sekaligus penulis buku merajut kisah yang dicatatnya dengan detil, penuh bumbu emosi.

Saat menceritakan tekanan yang dihadapi dari sesama koleganya di Kompas terkait penggunaan nama Kompas dalam Kompasiana, Pepih bertahan. Ia punya argumen sendiri. Nama Kompasiana cukup simpel, mudah diingat dan catchy. Nama ini mengingatkan pada rubrik Kompasiana yang digawangi dan ditulis sendiri oleh salah satu pendiri Kompas, PK Ojong.

Meski mudah diucapkan dan diingat, ternyata Kompasiana sebagai Journalist Blog kemudian menjadi masalah di lingkungan internal Kompas cetak. Konten Kompasiana dianggap sebagain kalangan internal jauh dari tradisi Kompas yang santun, dalam dan obyektivitasnya terjaga puluhan tahun.

Saya setuju dengan Pepih yang membandingkan Kompasiana secara hitam putih dengan Kompas cetak adalah orang yang tidak (belum) memahami ‘roh’ media baru. Media baru apapun itu jelas berbeda dengan media mainstream yang memiliki tradisi panjang terkait isi yang terjaga kualitasnya, dengan menempatkan obyektivitas pada tataran tertentu.

Sementara Kompasiana, karena merupakan tulisan warga biasa yang tidak melalui proses editing keredaksian, memang kental dengan semangat subyektivitas penulisnya. Namun justru di situlah letak kelebihan dan keunikan media baru (media sosial). Sangat personal, bahkan emosional.

Apakah salah? Menurut saya tidak. Bahkan keberadaan media baru melengkapi keberadaan media mainstream yang sudah lebih dulu eksis. Apa yang ditampilkan di media mainstream sangat terbatas, entah itu dibatasi jumlah halaman atau kebutuhan harus berbagi dengan banyak rubrik. Gaya bahasanya pun punya kaedah tersendiri yang cenderung kaku dan formal.

Sedangkan media baru justru kebalikannya. Sebuah tulisan bisa berpanjang-panjang, dengan gaya bahasa yang lentur, nyaris tanpa aturan. Sentuhan pribadi dalam tiap tulisan membuat media baru jauh lebih berwarna dan informal.

Kompasiana Adalah Energi Warga Biasa

Membaca buku setebal 268 halaman ini bagi saya selain membaca perjuangan, juga melihat keteguhan dan kekeras kepalaan seorang Pepih Nugraha. Jika Pepih takluk pada rintangan yang menghadang sejak awal, saya pastikan Kompasiana tak akan pernah menyentuh usia hingga 5 tahun seperti sekarang.

Jika Pepih selaku penggagas dan admin tidak punya keteguhan sikap, mungkin saran seorang jurnalis muda Kompas cetak untuk menutup Kompasiana benar-benar terwujud.

Kekeras kepalaan Pepih mesti dilihat dari sisi positif. Jika ia tak punya ambisi positif mengembangkan Blog Sosial bisa jadi Indonesia tidak akan pernah memiliki sebuah ‘rumah’ berteduh bagi warga biasa bernama Kompasiana.

Kekeras kepalaan Pepih akhirnya mewujud. Berkat kerja keras Pepih beserta tim dan para penulis, saat ultah ke-5 bulan Oktober lalu, Kompasiana berada di posisi 30 besar situs terpopuler di Indonesia versi Alexa. Sebuah pencapaian yang tak main-main. Dan bukan tak mungkin posisi itu bakal terus mengangkasa.

Dengan pencapaian ini, Kompasiana bukan lagi etalase warga biasa, namun juga sebuah energi yang terus bertumbuh.

1,481 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini