Author Archives: Syaifuddin Sayuti

Lelaki pemimpi, 1 istri 3 anak, minat pada jurnalistik tv, social media, blogging, writing. #winnerKontesNgeblogVOA #7DaysMarch #JukeVideoContest . UI, Unpad

My Halal Kitchen

My Halal Kitchen bukanlah sebuah nama resto atau nama program televisi. Ini adalah grup diskusi di Facebook mengenai makanan halal. Sebuah gerakan dunia maya yang tak memiliki afiliasi pada apapun, pada kelompok manapun. Grup ini tidak menginduk pada LPPOM MUI atau lembaga sejenis, meski lembaga semacam itu kerap dijadikan rujukan dalam tiap diskusinya.

Terus terang saya belum terlalu lama masuk dan terlibat dalam diskusi-diskusi menarik di grup ini. Saya masuk ke dalam grup ini berkat ajakan Meili Amalia, teman satu kampus yang kebetulan menggagas sekaligus menjadi admin grup ini.

Awalnya saya hanya menjadi pemerhati saja, mengikuti setiap diskusi yang selalu ramai ditanggapi membernya. Lama-lama saya pun tertarik melibatkan diri dalam gerakan ini. Karena informasi yang saya dapatkan disini memenuhi dahaga saya akan persoalan halal haram yang selama ini tak saya ketahui.

Ide gerakan ini sebenarnya cukup sederhana, memastikan apa yang menjadi konsumsi kita sehari-hari itu dikategorikan halal sesuai kepercayaan yang kita anut. Sudah bukan rahasia lagi jika persoalan halal-haram makanan di negeri ini masih jauh panggang dari api. Masyarakat boleh mayoritas muslim, namun pengetahuan kita umumnya minim terhadap produk-produk pangan, peralatan dan sejenisnya yang dikategorikan halal.

Umumnya kita hanya tahu bahwa persoalan halal-haram hanya bila kita tak mengonsumsi makanan yang jelas-jelas haram seperti daging babi atau anjing. Padahal ternyata secara syar’i banyak juga problema pangan yang juga bisa dikategorikan tidak halal, mulai dari cara mengolah yang tak higienis, menyembelih hewan tidak sesuai aturan agama, hingga penggunaan peralatan masak yang terkontaminasi produk tak halal yang menyebabkan makanan yang semula halal jadi tak halal.

Diskusi yang terjadi di grup ini lumayan cair. Mereka yang tak mengerti diberi pencerahan. Sementara yang duluan tahu punya semangat berbagi yang luar biasa kepada anggota yang lain. Enaknya diskusi di dunia maya itu seperti berdiskusi di sebuah perpustakaan. Saat anggota tak mengetahui secara pasti sebuah persoalan, anggota lainnya langsung mencarikan informasi tersebut dari internet. Bahan tersebut kemudian menjadi bahan diskusi kembali yang menarik.

Ada hal yang menarik di grup ini. Salah satu cara menggali pemahaman mengenai halal-haram yakni dengan menggelar latbar (latihan bareng). Karena mayoritas anggotanya perempuan, latbarnya pun tak jauh dari dapur. Hari Minggu, 24 Maret 2013 digelar latbar Dimsum halal di rumah salah satu anggotanya, Yanti Saleh di kawasan Tebet.

Kenapa Dimsum tentu ada alasannya. Makanan ini tengah hits dan banyak diburu, terutama saat resepsi kawinan. Hidangan dimsum jadi primadona pesta. Namun hidangan ini masih punya ganjalan, karena asalnya dari China, kesan tidak halalnya sangat kuat. Nah, my halal kitchen mencoba mencari jalan keluar dengan menggelar latbar Dimsum versi halal.

Halal dalam pembuatan dimsum ini bukan saja mengganti beberapa hal yang di asalnya China sana berkategori haram bagi warga muslim seperti penggunaan daging, minyak maupun lemak babi. Namun semua produk yang tak halal dicoba dicari padanannya yang sudah bersertifikasi halal.

Butuh effort yang lumayan karena beberapa produk masih susah dicari versi halalnya di pasaran. Namun itu bukan berarti langkah kami surut. Dengan kreativitas semua bisa diatasi.

Saya yang bersama Hagi si juragan Siomay Perintis jadi peserta paling ganteng, terus terang dapat banyak pencerahan dari event seharian ini. Latbar bukan cuma cooking class namun juga tempat yang bagus untuk belajar bisnis dan belajar memahami produk halal dan haram. Apalagi Latbar dipandu bu Yuyun Anwar yang expert di bidang kuliner halal beserta seluk beluk bisnisnya.

Event latbar tadi setidaknya membuka cakrawala saya mengenai persoalan halalan thoyiban produk-produk pangan. Pelan-pelan akan mengubah mindset dan kebiasaan, sehingga hanya menggunakan cara-cara halal dalam mengolah dan mengonsumsi makanan. Karena apa yang kita makan sedikit banyak mempengaruhi alam bawah sadar kita dalam bertindak sehari-hari.

Mari jadikan “halal” menjadi lifestyle kita, kaum muslim.

Swarelokasi Setelah 15 tahun Kebanjiran

Tinggal di sisi sungai dan merasakan kebanjiran selama 15 tahun bukanlah mimpi bagi saya sekeluarga. Saya pernah mengalaminya di kawasan Cidodol Kebayoran Lama Jakarta Selatan. Rumah kami yang berada di sisi anak sungai Pesanggrahan selalu terkena luapan air di kala hujan deras turun di Jakarta maupun kiriman dari kawasan puncak Bogor.

Sedih, pastinya. Tapi tak ada waktu untuk menyesali banjir, karena menangis pastinya tak akan menyelesaikan keadaan. Saat kecil, banjir bagi saya adalah bersenang-senang main air. Tak ada kamus sedih, karena banyak rumah teman dan tetangga yang juga kena banjir.

Namun kesedihan sebenarnya saya dan adik-adik rasakan, karena di lingkungan terdekat hanya rumah kami yang kebanjiran. Posisi rumah yang di bawah cekungan sungai membuat rumah kami berada di lokasi terbawah dari rumah-rumah lainnya. Alhasil rumah kami jadi langganan banjir tiap hujan besar, bukan hanya sekali tiap tahun, bahkan berkali-kali saat musim penghujan tiba.

Tak ada bantuan pangan, obat-obatan atau apapun karena (mungkin) tak ada yang peduli pada kami yang tinggal di bantaran kali. Siapa suruh tinggal di pinggir kali, begitu mungkin pemerintah kota saat itu berfikir.

Apa yang kami lakukan saat hujan dan banjir datang adalah melakukan segalanya sendiri. Karena banjir kerap hadir, kami jadi punya insting lebih dalam mengendus mana hujan yang bisa menyebabkan banjir, mana yang hanya menumpahkan air saja.

Jika banjir kemudian menggenang, kami refleks bekerja sama mengangkat barang-barang ke tempat lebih tinggi. Kasur diangkat ke atas lemari, kulkas, tv di atas meja. Yang paling utama biasanya saya ungsikan dulu adik-adik yang masih kecil-kecil di rumah tetangga yang letaknya lebih tinggi. Setelah itu kembali ke rumah beberes bersama orang tua.

Seingat saya selama tinggal di sisi sungai Pesanggrahan, banjir terhebat yang pernah menimpa rumah kami tingginya mencapai 1,5 meter. Rumah bapak nyaris tenggelam dan menyisakan dinding dan atap saja. Dan pasca banjir adalah saat yang paling berat bagi kami sekeluarga karena harus membersihkan perabotan dari lumpur yang menempel, mengepel lantai hingga menghilangkan lembab akibat banjir. Sungguh menguras fisik dan psikis.

Setelah 15 tahun kebanjiran akhirnya awal tahun 90-an bapak kepikiran untuk merelokasi rumah kami ke lokasi yang lebih beradab. Jangan bayangkan relokasi ini adalah tawaran Pemda atau lurah setempat ya. Ini murni usaha kedua orangtua saya sendiri. Mungkin relokasi ini bisa kami namakan swa relokasi, relokasi atas kemauan dan usaha sendiri.

Alhamdulillah setelah pindah ke kawasan lain rumah orang tua kami tak pernah lagi kebanjiran hingga kini. Meski kenangan akan banjir di masa lalu begitu membekas, namun saya tak ingin membaginya pada anak-anak. Biarlah itu jadi sejarah hidup saya, adik-adik dan ortu.

Hentikan Persidangan Kasus IM2

HLKU
Persidangan kasus dugaan korupsi yang melibatkan PT.Indosat dengan anak usahanya Indosat Mega Media (IM2) Senin besok kembali digelar di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta. Esok sidang akan mengagendakan jawaban jaksa atas eksepsi kuasa hukum terdakwa.

Dalam sidang sebelumnya, kuasa hukum terdakwa mengajukan nota keberatan (eksepsi) kepada majelis hakim. Intinya kuasa hukum minta kasus ini dihentikan karena secara hukum tidak ada yang dilanggar, karena kerjasama IM2 dan Indosat diatur Undang-undang Telekomunikasi nomor 36/99. Bahkan Kementrian Kominfo selaku regulator teknis pertelekomunikasian sudah mengeluarkan dua surat sekaligus yang menegaskan tidak ada pelanggaran dalam kerjasama antara IM2 dengan Indosat.

Di luar persidangan selama sepekan kemarin juga bergulir tuntutan agar sidang kasus dugaan tindak pidana korupsi IM2 dihentikan. Dalam sebuah diskusi yang digelar Indonesia Telecommunication User Group (IDTUG), Rabu pekan ini di Jakarta misalnya, mengemuka tuntutan agar persidangan kasus Indosat-IM2 dihentikan karena berjalan dengan fakta yang sumir, cacat hukum dan cenderung membohongi publik.

Nonot Harsono dari BRTI mengatakan, ada salah pengertian dari jaksa penuntut umum dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi yang didakwakan pada PT.Indosat Mega Media (IM2). Jaksa mendakwa IM2 melakukan tindak pidana korupsi dengan menggunakan jaringan pita frekwensi radio 2,1 Ghz atau generasi ketiga (3G). Padahal secara aturan menurut Nonot, itu bukanlah pelanggaran. Dalam Undang-undang telekomunikasi nomor 36 tahun 199, penyelenggara jasa internet dalam operasionalisasi kerjanya memang harus melalui jaringan telekomunikasi.

Menurut Nonot, apa yang disidangkan bukanlah kasus, namun hanya salah pengertian memahami jaringan radio dan frekuensi. Jika persidangan dilanjutkan dikhawatirkan akan terjadi kesalahpahaman lebih besar di masyarakat. Dan ini berbahaya jika dibiarkan.

Nonot memaparkan sejumlah bukti, jika kasus kerjasama IM2-Indosat ini sampai diputus oleh pengadilan Tipikor, maka akan berdampak ekonomi sangat luas. Bukan hanya menimpa perusahaan penyedia jasa internet, namun juga perusahaan content provider, penjual aplikasi jaringan seluler, dunia perbankan yang menggunakan mesin ATM yang memakai VSAT, hingga 200 juta pelanggan telepon seluler.

Kamilof Sagala dari Komisi Kejaksaan mengakui, pemahaman jaksa soal dunia Teknologi Informasi sangat terbatas dalam kasus IM2. Mereka menanyakan hal yang sama seperti sudah mengetahui banyak hal. Menurut Kamilof, sebagai komisioner komisi kejaksaan ia menilai kasus ini bukan hanya keliru, tapi juga menunjukkan kemampuan mereka para jaksa diatas kebodohan mereka sendiri.

Kamilof berharap hakim nantinya berfikir hal yang sama saat memutuskan perkara. Ia berharap kasus ini harus diuji untuk mengetahui ketidak benarannya. Nantinya komisi kejaksaan bisa minta eksaminasi atas putusan pengadilan Tipikor. Kamilof menilai dalam kasus ini kejaksaan seperti hanya mengejar kuantitas bukan kualitas kasus.

Sedangkan Nurul Setyabudi dari IDTUG menilai, kasus dugaan korupsi Indosat dan IM2 ini menunjukkan hukum sudah tidak dihormati, karena logika dijungkirbalikkan. Industri dan masyarakat sama-sama terancam. Karena dampak ikutan kasus IM2 ini akan membuat posisi ratusan penyedia jasa internet (ISP) di tanah air gulung tikar. Aparat hukum mestinya tidak memberikan teror pada masyarakat dengan ketidakmengertiannya terhadap industri telekomunikasi. IDTUG mendesak komisi kejaksaan memeriksa jaksa yang salah membuat dakwaan.

Kita lihat saja apakah kasus ini akan berlanjut dengan segala kejanggalan yang menyertainya. Sehingga kita akan kesepian karena tak ada lagi jaringan internet yang beroperasi di tanah air? Jika ini terjadi maka Kiamat Internet akan menimpa kita, dan ini bukan lagi isapan jempol seperti kiamat dunia yang bangsa Maya prediksikan di 20 Desember 2012 lalu. Jika Kiamat Internet benar-benar terjadi, bisa jadi ini adalah postingan blog terakhir yang bisa saya buat. Kita pun tak akan bisa lagi BBM-an, sms-an atau berselancar di dunia maya melalui smartphone. Hanya gara-gara kesalahan jaksa yang gaptek, kita akan kembali jadi bangsa gaptek berjamaah.

*Jadi HL Kompasiana (28 jan 2013)

Rasyid dan Afriyani

Kasus kecelakaan dengan pengemudi mabuk atau mengantuk bukan cerita baru. Dan di Jakarta sejumlah kejadian kecelakaan yang menyebabkan nyawa manusia melayang pun hampir tiap hari terjadi. Namun ada 2 kejadian dalam kurun waktu dan tempat berbeda yang menarik perhatian publik. Pertama, kecelakaan di dekat tugu tani, Jakarta Pusat yang lebih dikenal dengan kasus Xenia maut menjadi peristiwa kecelakaan dengan korban tewas terbanyak yang sulit dilupakan. 9 nyawa melayang akibat kesembronoan Afriyani Susanti, perempuan pengemudi yang konon mabuk saat berkendara.

Peristiwa kedua yang yang saat ini ramai diperbincangkan adalah tabrakan BMW maut dengan Luxio di awal tahun 2013 yang menewaskan 2 orang. Kasus ini jadi kontroversi karena melibatkan anak petinggi negeri ini, putra Menko Perekonomian Hatta Rajasa sebagai pelaku penabrakan. Kasus kedua ini kabarnya menurut hasil penyeldidikan sementara polisi akibat pelaku mengantuk.

Kasus ini memang belum lagi usai. Saya mencatat sejumlah kejanggalan. Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 6 pagi ini nyaris “menguap” dari media. Pelaku menghilang tak tentu rimbanya. Barang bukti tak sempat terlacak, ‘disimpan’ entah dimana. Polisi pun tiba-tiba ‘sakit gigi’, tak mau berkomentar sedikitpun.

Kasus ini sedikit ‘benderang’ manakala ada konferensi pers dari Hatta Rajasa dan keluarga. Hatta yang juga besan presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengakui anak bungsunya, Rasyid Amrullah Rajasa, terlibat kecelakaan maut yang menewaskan dua orang. Publik dibuat lega ada pernyataan ini.

Setelah itu Hatta yang akan maju sebagai calon presiden dalam Pemilu 2014, dengan timnya melayat dan ikut menshalatkan salah satu korban tewas. Lewat media, publik dibuat trenyuh dengan langkah politisi yang tak biasa ini. Berani muncul ke publik, meminta maaf, menanggung semua biaya pengobatan, penguburan dan biaya sekolah anak korban.

Setelah pertemuan itu keluarga korban menyatakan tak akan menuntut balik atas kematian anggota keluarganya. Jalan damai ternyata ditempuh Hatta demi si bungsu.

Saya menilai langkah-langkah yang diambil Hatta Rajasa sebagai komunikasi politik yang cukup baik. Ia memposisikan diri sebagai pribadi yang bertanggung jawab, tidak lari dari masalah. Berani menanggung resiko atas perbuatan yang dilakukan anaknya.

Tapi tunggu dulu… Kemana Rasyid, yang sudah ditetapkan Polda Metro Jaya sebagai tersangka kini berada? Rupanya Rasyid sengaja ‘disembunyikan’ karena trauma dan sakit maag yang akut. Rasyid dirawat di RS Pertamaina untuk menyembuhkan trauma dan maag akutnya.

Poin terakhir inilah yang kemudian menimbulkan tanda tanya. Mengapa Rasyid harus ‘disembunyikan’? Bukankah ia sudah menyebabkan hilangnya nyawa 2 orang warga tak berdosa? Apakah alasan sakit pelaku penabrakan itu ada dalam undang-undang? Saya kok tak yakin.

Apa bedanya antara Rasyid Rajasa dan Afriyani Susanti ? Apa karena Afriyani adalah orang ‘biasa’ sehingga langsung ditahan? Apakah karena menyandang nama belakang seorang ‘Rajasa’ sehingga Rasyid kebal dari hukuman? Ada diskriminasi perlakuan yang terjadi dalam kasus Rasyid.

Hari ini (Kamis, 3 januari 2013) pihak RS Pusat Pertamina menggelar konpers mengenai kondisi kesehatan Rasyid. Publik memang berhak tahu kondisi Rasyid, tapi saya curiga pemaparan kondisi kesehatan ini hanya akan digunakan sebagai pembenaran bahwa Rasyid sakit, rapuh, tak bisa menjalani proses hukum.

Nyali aparat penegak hukum kita sekali lagi diuji dalam kasus ini. Apakah mereka akan terpana dengan penjelasan Hatta Rajasa bahwa kasus ini selesai karena keluarga korban tidak menuntut secara hukum? Ataukah bakal menegakkan keadilan setegak-tegaknya?

Kasus ini akan jadi batu ujian bagi polisi dan bakal jadi preseden buruk jika alasan sakit maag akut yang membuat tersangka tidak ditahan dibiarkan begitu saja. Jika ada kejadian serupa jangan kaget bakal ada sejuta alasan sakit demi menghindari hukum. Kita sudah lelah diberi tontonan kebohongan demi kebohongan dari aparat maupun politisi.

Buat pak Hatta Rajasa, saya setuju dengan anda bahwa kejadian itu adalah musibah. Keluarga korban pun sama pahamnya dengan saya warga biasa. Tapi alasan mengantuk atau mabuk saat berkendara sehingga menyebabkan hilangnya nyawa orang lain tetap tidak dibenarkan. Ini harus tetap diproses di jalur hukum.

Yang pasti, publik akan mencatat dan mengawal kasus ini. Kita tak akan pernah lupa dan berusaha untuk tidak melupakan semua proses yang berlangsung. Apakah Hatta Rajasa akan menjadi politisi yang taat dan hormat pada hukum? Ataukah sama dan sebangun dengan pejabat lainnya yang kerap menyepelekan hukum? Waktu yang akan membuktikannya.

2012 dan Saya

Tahun 2012 sejenak lagi akan jadi sejarah. Banyak catatan yang telah saya raih, banyak pula hal yang gagal saya dapatkan. Terkait dengan aktivitas saya di dunia blogging, ada beberapa catatan yang berhasil saya torehkan. Bukan sesuatu yang luar biasa memang, tapi setidaknya menjadi penyemangat untuk lebih giat lagi menulis.

Tahun depan ada beberapa rencana yang akan saya lakukan. Beberapa mimpi yang belum tergapai juga saya tetap pelihara. Tak perlu saya beberkan di sini. Semoga rencana-rencana itu bisa konsisten saya jalankan dan upayakan.

Berikut year in review 2012 versi Facebook.

Nah, kalo yang ini, review blog saya yang lama di wordpress.

Selamat tahun baru 2013, semangat terus, semangat baru!!

Ketika Tulisan dimuat di Kompas Cetak

afreezAda kabar yang nyaris saya lupa tuliskan di blog ini. Postingan saya di Kompasiana yang berjudul Liburan Cerdas di era 2.0 dimuat di Kompas Cetak di rubrik Kompasiana Freez, tepat di tanggal cantik, edisi 12 Desember 2012 (12-12-12). Karena untuk edisi cetak, ada proses editing dan judulpun disesuaikan dengan tema besar soal liburan keluarga.

Bagi saya, ini sebuah mimpi lama yang saya pupuk sejak masa kuliah, dan akhirnya baru bisa mewujud sekian tahun kemudian. Bagi seorang penulis, tulisan bisa dimuat di Kompas edisi cetak adalah sesuatu. Apalagi jika tulisan kita dimuat di halaman opini Kompas, lebih dari sesuatu.

Kompas cetak memang memiliki standar khusus bagi kontributor tulisannya. Tidak sembarang orang bisa memajang karyanya di Kompas cetak. Karena sangat ketat seleksinya, sejak dulu jumlah penulis Halaman opini Kompas terbilang sedikit. Hanya berkisar dari orang itu ke itu saja. Meski belakangan Kompas berubah, dengan banyak membuka diri dengan tulisan yang lebih populer, namun tetap Kompas memiliki standar yang tak bisa diturunkan.

Mimpi memang harus dirawat dan diupayakan. Setelah ini saya akan buat mimpi-mimpi baru terkait dengan dunia kepenulisan yang saya geluti. Siapa tahu tahun depan bisa menghasilkan sebuah buku sendiri, setelah buku keroyokan dulu dengan sesama blogger Multiply.

Mengapa Saya Harus Ikut My Selangor Story 2013

Yihaa… My Selangor Story (MSS) kembali digelar! Dua kali penyelenggaraan MSS saya hanya bisa menelan ludah, karena telat informasinya dan saya terus terang saat itu tak siap bepergian lantaran kuliah master saya sedang deadline. Namun untuk MSS2013 kali ini saya harus ikut dan menjadi bagian dari Top 20 blogger yang diajak serta ke Selangor, Malaysia di awal tahun 2013.

Ada beberapa alasan mengapa saya harus dipilih (maksa dotcom! :) ) untuk jadi salah satu konstestan MSS2013. Saya adalah blogger aktif yang telah menulis di blog sejak tahun 2004. Saya menulis di berbagai platform blog, mulai blog gratisan sampai berbayar, mengikuti beragam komunitas blog seperti komunitas blogger Bekasi, Asean Blogger Community dan Kompasiana. Selama kurun waktu tersebut, berbagai event blogger sudah pernah saya ikuti.

Saya senang jalan-jalan, melihat keunikan banyak tempat, mencicipi kuliner khas setempat dan juga bersentuhan dengan penduduknya. Masih lekat dalam ingatan saat saya dan keluarga berlibur ke sejumlah kota di Jawa saat mudik Lebaran lalu. Saya berhasil mendekatkan anak-anak pada keunikan sejumlah tempat, keragaman budaya Indonesia, serta mengajak mereka menjelajahi aneka makanan nusantara yang tidak mereka temui di Jakarta.

gif maker at gickr.com
Trip to Jogja, Solo, Kediri
Di Kediri, Jawa Timur misalnya, saya sempat ajak anak-anak mengunjungi bendungan Waru Turi di kawasan Gampengrejo. Di tempat ini anak-anak jadi paham fungsi sebuah bendungan untuk mengairi sawah-sawah petani, dan menjadi sumber penghidupan bagi warga sekitar. Tempat ini juga menarik sebagai destinasi wisata, karena pengelola bendungan melengkapinya dengan aneka permainan anak-anak.

Sementara saat ke Jogjakarta, saya tunjukkan sisi menarik kota ini tang tak bisa kita temui di ibukota. Misalnya, suasana kotanya yang tak terlalu sibuk, masih berdiri dan terawatnya bangunan-bangunan kuno, becak, sepeda dan semua elemen seni budaya seperti keraton hingga kulinernya yang dahsyat seperti gudeg di Wijilan, angkringan nasi kucing, atau bakpia Pathok.

Nah, jika saya terpilih sebagai salah satu kontestan MSS2013, sudah terbayang beberapa rencana di depan mata. Saya akan eksplor keindahan tempat wisata di Selangor, mencicipi keunikan ragam kulinernya, melihat atraksi budaya setempat dan tentu yang paling utama adalah bertemu dengan sesama blogger, khususnya dengan para blogger negeri jiran Malaysia.

Bagi saya, event MSS2013 adalah kegiatan yang penting. Selain sebagai ajang promosi wisata, ajang ini bisa dijadikan sebagai jembatan budaya kedua negara. Ajang ini bisa dijadikan sebagai tempat bertemunya pemikiran dan rasa saling memahami antar kedua bangsa. Pendek kata, ini merupakan investasi jangka panjang, menumbuhkan solidaritas sesama bangsa Asia Tenggara.

Trip to Brisbane

Trip to Brisbane

Dan saya yakin, saya adalah blogger yang tepat untuk dipilih sebagai salah satu kontestan MSS2013. Karena saya akan membawa misi budaya, persaudaraan dan perdamaian.

Oh ya, meski kontestan MSS kebanyakan adalah blogger single, saya tak akan surut langkah. Justru karena sudah berkeluarga, tentunya saya punya nilai tambah, dapat memberi informasi maksimal bagi keluarga-keluarga di Indonesia mengenai Selangor. Siapa tahu setelah membaca keikutsertaan saya di MSS2013, banyak keluarga Indonesia yang tertarik mengunjungi Selangor di kemudian hari.

Nantinya saya akan bagikan rekaman pengalaman di Selangor melalui postingan di Blog. Tidak hanya tulisan, namun juga gambar/foto serta video. Saya juga berencana mengupdate semua aktivitas selama di Selangor melalui sejumlah akun sosial media yang saya miliki. Cerita mengenai Selangor juga akan saya bagikan ke semua komunitas blogger yang saya ikuti agar makin banyak yang tahu keindahan dan keunikan Selangor. Yang tentunya secara tidak langsung akan memacu pertumbuhan kedatangan wisatawan ke sana.

Belum berangkat saja saya sudah bayangkan bakal seru perjalanan ke Selangor nanti. Apalagi saya sendiri belum pernah menginjakkan kaki di Malaysia, sehingga perjalanan ke Selangor bisa saya tuliskan dengan perspektif yang berbeda.

16 Tahun yang Cetar Membahana

Kemarin menjadi hari spesial bagi saya bersama istri, Siti Komsiah. 16 Tahun sudah kami menjalani biduk rumah tangga. Perjalanan pernikahan selama 16 tahun bagi saya adalah sebuah prestasi. Bukan sekedar catatan pertambahan angka belaka. Bagi kami setiap hari adalah momen berharga tempat kami belajar saling memahami, melengkapi, berbagi, dan menghargai.

Saya merasa tidak mudah berjalan seiring bersama selama 16 tahun. Banyak sekali suka, duka, tawa, dan tangis yang kami alami. Sering kali kami dihadapkan pada kegembiraan yang membuat kami tertawa. Lain waktu kami harus menelan pil pahit kekecewaan dan juga kesedihan. Suka duka adalah bunga kehidupan, karenanya kami selalu hadapi bersama.

Jika ada yang bertanya apakah setelah 16 tahun menikah masih perlu belajar memahami pasangan? Saya bisa menjawab iya dan itu perlu. Karena saling memahami tidak akan pernah selesai, masing-masing pasangan kita berkembang, karenanya pemahaman harus terus diupayakan. Memahami itu menyelami pribadi masing-masing. Tak pernah ada kata putus, selama kita bernafas.

Lalu, apakah saya sudah menjadi suami sempurna? Sejujurnya, belum. Saya masih jauh dari sosok itu. Banyak pe-er yang harus saya kerjakan. Salah satu yang terus saya upayakan adalah bisa adil membagi waktu bagi anak dan istri. Karena pekerjaan, seringkali kami berseberangan waktu. Saya libur, anak istri sekolah dan bekerja. Begitu juga sebaliknya. Kadang ini jadi friksi, tapi lebih banyak jadi solusi dengan menggantikan waktu yang terbuang di saat lain. Untuk yang satu ini, saya hanya bisa bilang kalian semua sangat pengertian.

Selama kurun waktu 16 tahun, alhamdulillah kami dianugerahi 3 anak yang kini beranjak besar. si Sulung Muhammad Ihsan Ramadhan, kini kelas 3 SMP, Nabila Khairunnisa bersiap menghadapi ujian kelas 6 SD, sementara si bungsu Nisrina Fatin Humaida masih di kelas 3 SD. Ketiga malaikat kecil itu kini mengisi hari-hari kami. Rumah kami tak pernah surut riuhnya dari suara, tawa, dan aksi saling ledek diantara mereka. Ketiga bocah ini adalah permata keluarga yang kelak menjadi penerus keluarga di masa datang.

Di pundak mereka kami berharap banyak, mereka akan menjadi diri mereka sendiri yang berbakti pada Allah, kedua orang tua, sopan, ramah dan menyayangi sesama. We love you kids!

Semoga kami bisa diberi kepercayaan dan amanah untuk terus mencatatkan kebersamaan lagi, lagi dan lagi. Benar kata Arswendo, Harta yang paling berharga adalah keluarga. Kalau materi? Itu yang utama. hehehe…

Menanti Akting Summa Cumlaude Reza Rahadian di Habibie & Ainun

Berakting bagi saya yang bukan seniman pastinya bikin pening. Tapi bagi aktor sekelas Reza Rahadian ternyata memerankan sosok mantan Presiden BJ.Habibie dalam film Habibie dan Ainun sempat bikin pening juga. Reza yang meraih 2 piala citra dalam Festival Film Indonesia tahun 2009 dan 2010, mengaku butuh waktu mendalami sosok Habibie yang unik dan terkenal dengan gaya bicaranya yang spontan.

“Saya beruntung diberikan waktu khusus bertemu pak Habibie beberapa kali. Bahkan saya sempat ngobrol panjang lebar selama 6 jam di kediaman beliau, demi menyelami karakternya,” ujar Reza Rahadian kepada media dan blogger saat pra launching film Habibie & Ainun, di Jakarta (9 Des 2012).

Awalnya, Reza mendapat kritikan keras dari Habibie karena penggambaran sosoknya kurang pas. Namun berkat kritikan itu Reza belajar dan mendalami karakter itu hingga setidaknya sesuai harapan skenario.

Selain berdialog langsung dengan Habibie, akting Reza juga terbantu dengan kehadiran Habibie ditengah syuting film di Jakarta, Yogyakarta, dan Jerman. Habibie kerap memberi masukan jika pengadegan tak sesuai dengan apa yang dialami Habibie dan Ainun. “Hanya di Bandung beliau absen. Namun kehadiran beliau di lokasi syuting benar-benar membantu menghidupkan karakter Habibie,” tambah Reza.

Lalu, apakah Reza puas dengan aktingnya di film yang mengisahkan percintaan mantan Presiden Habibie dengan istrinya Ainun Besari? “Silakan tonton sendiri filmnya untuk menilai apakah saya berhasil atau gagal.”

Bagaimana reaksi Habibie sendiri terhadap akting Reza di film itu? Saat peeview film Reza sempat tak diperbolehkan menonton. Habibie bersama sutradara dan produser menonton langsung di dalam bioskop, sementara ia berada di luar ruangan. Bak ujian sidang sarjana, begitu keluar Habibie menyatakan Reza lulus summa cumlaude dengan aktingnya di film tersebut. Reza merasa plong karena berarti aktingnya diapresiasi oleh sang mantan Presiden.

Penasaran dengan akting Reza sebagai Habibie? Tunggu tanggal mainnya di bioskop mulai 20-12-2012.

***

Selain Reza, kemarin hadir juga artis Inneke Koesherawati sebagai brand ambassador produk kecantikan Wardah, yang mensupport film Habibie dan Ainun. Menurut Inneke meski tidak bermain dalam film ini, ia sebagai brand ambassador bangga dengan keterlibatan Wardah di film ini.

Karena Wardah tidak hanya mendandani semua pemain film, Namun juga turut mendonasikan sejumlah uang untuk yayasan Ainun Habibie. Mereka mengumpulkan donasi dengan cara unik, yakni tiap satu stempel mawar merah dihargai Rp.10.000 yang akan diakumulasi dan hasilnya untuk membantu membiayai pasien gagal ginjal yang membutuhkan cuci darah.

Sebuah upaya terpuji yang diinspirasi oleh perkataan mantan Presiden Habibie saat ibu Ainun berpulang. Saat itu Habibie ingin agar tak ada yang memberikan bunga duka bagi mendiang istrinya. Ia lebih senang jika bunga duka diberikan dalam bentuk donasi bagi yayasan Ainun Habibie yang bergerak dalam bidang kesehatan.

***

Sebelumnya, kegiatan menyambut peluncuran film Habibie & Ainun juga dilakukan di area car free day, di bundaran HI Jakarta Pusat. Sejumlah blogger ikut membagikan bunga mawar bagi pengunjung yang melintas di kawasan tersebut. Berikut sejumlah gambar keriaan pra launching Habibie & Ainun yang berhasil saya rekam.

Liburan Cerdas di Era 2.0

13549405101186317784

Aplikasi GPS Navigation Waze

Siapapun tahu liburan adalah saat menyenangkan bersama orang terdekat, entah itu teman, pasangan, maupun keluarga. Bagi kami sekeluarga liburan adalah saatnya melupakan rutinitas sejenak. Anak-anak terbebas dari pe-er, ulangan, ataupun tugas di tempat les. Istri jeda dari pekerjaan di kampusnya. Sementara saya sengaja mematikan semua notifikasi email atau BBM agar perjalanan liburan tak terganggu urusan rutin.

Tapi satu yang tak mungkin saya tinggalkan meski sedang liburan adalah gadget. Bagi saya keberadaan smartphone ataupun tablet tetap penting. Terutama bagi mereka yang memilih jalan darat menggunakan kendaraan. Ini sudah saya buktikan saat liburan ke beberapa kota di Jawa, saat Lebaran lalu.

Menurut saya, aplikasi wajib yang harus ditanam di gadget kita saat liburan menggunakan jalan darat adalah jejaring sosial seperti twitter dan Waze. Keduanya menjadi andalan saya menemani perjalanan liburan. Twitter, tak ada yang mengalahkan dalam soal updating ruas jalan. Info kemacetan, jalan rusak, lampu jalan semua bisa didapat. Saya cukup terbantu saat terjebak kemacetan parah di tol Cikampek dan mesti menentukan sikap berbelok lewat jalur lain atau menunggu jalur Cikampek dibuka kembali.

Sementara Waze yang merupakan aplikasi free GPS Navigation jadi andalan untuk mencari arah jalan. Waze sudah saya nyalakan sejak start dari rumah. Info yang diberikan lumayan, karena Waze memberi info kepadatan lalin, arah jalan, letak pom bensin hingga siapa saja yang terhubung dengan kita, sesama pengguna Waze. Kita bisa bersahutan dengan pengguna Waze yang kebetulan melewati rute yang sama. Pendek kata, liburan jadi lebih menyenangkan berkat kemajuan teknologi. Tak perlu banyak kesasar saat mencari jalan, karena petunjuk arah yang diberikan aplikasi semacam Waze cukup akurat.

Satu hal lagi yang tak boleh dilupakan saat perjalanan liburan menggunakan mobil adalah ketersediaan alat charger. Charger fungsinya sangat vital, terutama saat batteray gadget drop. Secanggih apapun gadget kita kalau batteraynya drop tak ada yang bisa kita lakukan dengannya. Selain mobile charger, sediakan pula power bank untuk mendukung optimalisasi kerja gadget. Power bank bisa menjadi back up saat kita turun dari mobil dan butuh mengisi batteray gadget.