Tahun 2020 sudah masuk bulan ketujuh. Namun baru separuh tahun banyak hal mengagetkan sudah saya alami. Diawali dengan pandemi Covid19 yang terjadi di seluruh dunia. Jika di Wuhan, China Corona terasa sejak akhir Desember 2019, maka di Indonesia mulai ramai di awal Februari 2020.

Saya sendiri masih sempat traveling di awal Februari 2020 ke Singapura. Saat itu pengetahuan saya dan juga keluarga mengenai Covid19 belumlah banyak. Meski khawatir tapi kami tetap lanjutkan rencana traveling di Singapura selama 2 malam 3 hari. Alhamdulillah aman perjalanan kami selama di sana hingga pulang ke tanah air.

Pertengahan Maret situasinya berubah. Kami para pekerja dan juga pelajar mulai dikarantina di rumah. Belajar maupun bekerja dilakukan semuanya dari rumah.

Selepas Lebaran barulah situasi berubah. PSBB (Pembatasan sosial berskala besar) yang diberlakukan di sejumlah provinsi pelan-pelan dikurangi. Pekerja mulai aktif lagi ke kantor meski masih terbatas. Kami bekerja hanya 3 hari di kantor, sisanya di rumah.

Dan.. penghujung Juni 2020 saya mendapatkan sebuah kenyataan pahit terkait pekerjaan. Saya di phk sodara-sodara setelah mengabdi selama 7 tahun lebih. Lho, kok bisa?

Ya, bisalah. Pandemi memang memakan banyak korban. Tak sedikit perusahaan yang merumahkan karyawan atau lebih ekstrem lagi mem-phk. Saya termasuk dalam kelompok kedua.

Saya terima dengan kesadaran penuh, bahwa putusan itu bukan akhir dari segalanya. Justru saya memasuki fase baru, merancang hal baru, beradaptasi dengan banyak hal baru. Pertengahan Juli petualangan saya berakhir di kantor. Next, apa yang bakal saya lakukan? Jujur, belum tahu. Saya ingin mengalir dengan kondisi ini. Manusia boleh berencana, Tuhan yang akan menentukan. Apakah saya kembali ke kampus atau memilih jalan lain?