Deretan Chevy Spin Siap Jelajahi Jkt-Bgr-Jkt (foto: koleksi pribadi)

Deretan Chevy Spin Siap Jelajahi Jkt-Bgr-Jkt (foto: koleksi pribadi)


Hari Sabtu (14/9) 30 orang Kompasianer akhirnya kesampaian juga menjajal mobil MPV Chevrolet Spin. Rombongan berangkat dari markas Kompas-Gramedia pukul 08.30 wib. Ada 7 mobil yang disiapkan Chevy Indonesia untuk dicoba para blogger. Tiap mobil berisi 3-4 orang.

Kebetulan saya ada di mobil 2 bersama Kompasianer Johny Josua (@polarway), Ari Nugroho (@siarik), dan Komang Prasadha (@danendraprasada). Dan menariknya kami dapat mobil Spin tipe LTZ 1.3 bermesin diesel. Ini menguntungkan kami sekelompok karena belum pernah seorangpun dari kami yang pernah mengendarai mobil diesel.

Rute test drive yang dirancang panitia lumayan menantang, mulai dari Palmerah, masuk tol dalam kota, tol Jagorawi, masuk kota Bogor dan berakhir di gunung Bunder di kawasan taman nasional Gunung Salak Endah. Sepertinya rute ini sengaja dipilih agar test drive menjadi optimal, karena kami harus menjelajahi jalanan datar di jalan tol, jalan berliku hingga menanjak di pegunungan.

Membayangkannya saja kelompok kami sudah excited duluan. “Misah aja yuk, gak usah iring-iringan. Yang penting kita sampai di titik yang ditentukan,” ujar Komang Prasadha yang menjadi driver pertama. Let’s Go…

Selepas pintu tol dalam kota di kawasan Slipi, mobil langsung kami lajukan meninggalkan iring-iringan rombongan. Insting pembalap yang tak kesampaian pun muncul. Kami geber Spin dalam kecepatan menengah dan mencoba bermanuver di jalanan rata. Mobil tetap stabil ketika kami pacu dan menyalib kendaraan di jalan tol.

Di sekitar Cibubur, tepatnya di km.10 arah Jkt jalan tol macet lantaran ada kecelakaan mobil truk yang terbalik. Ini adalah kecelakaan kedua sejak pagi saat saya melintas di jalanan yang sama.

Oya, meskipun bermesin diesel, ternyata Chevy Spin yang kami tumpangi suara mesinnya begitu halus dan lembut. Tidak terdengar suara berisik seperti kebanyakan mobil sejenis. Ini membuat kami sama-sama kagum.

Istirahat di Cek Poin Pertama Sentul (foto: koleksi pribadi)

Istirahat di Cek Poin Pertama Sentul (foto: koleksi pribadi)

Di jalanan menuju cek poin pertama, kami mengeksplor semua fitur yang ada di Chevy Spin. Agak terkagum-kagum dan sedikit norak juga manakala menemukan fitur yang tak biasa kami temukan di mobil buatan Jepang milik kami di rumah. Misalnya tombol central door lock yang terletak di dashboard, pengatur kaca spion di bar pintu depan kanan, hingga tempat charge bateray HP yang di dekat rem tangan. Soal keunikan mobil Chevy Spin akan saya eksplor di postingan selanjutnya.

Di cek poin pertama di Rest Area Km.34 Sentul, kami ternyata jadi tim pertama yang tiba. Di sini kami beristirahat sejenak sambil bertukar driver. Kali ini Jimmy yang memegang kendali di belakang.

Di jalan tol menuju Bogor, mobil Spin kami melesat dengan kecepatan ‘lebih’ dari sebelumnya. Saat dipacu pada kecepatan 120 km/jam kondisi mobil masih stabil. Mantap.

Di Bogor gor… di Bogor, kendaraan laju kendaraan mulai melambat lantaran jalanan macet. Situasi yang kerap kami temui di akhir pekan di kota Bogor. Selain banyak yang berwisata, kemacetan di Bogor salah satunya juga disebabkan banyaknya kendaraan angkutan kota yang parkir di bahu jalan.

Di Bogor kami hanya sesekali berpapasan dengan kendaraan peserta lainnya. Kami melaju sendirian bergantian dengan mobil pertama yang ada di depan kami. Lagi-lagi kami sempat terjebak di kemacetan lalu lintas kawasan Dramaga. Meski menyebalkan, namun kemacetan kali ini kami anggap berkah. Kami jadi bisa belajar bagaimana bisa mengendalikan Spin di jalanan yang padat kendaraan.

Selepas Dramaga, kami lanjut ke arah Gunung Bunder melalui kawasan Cikampak. Sempat tak yakin dengan pilihan jalan melalui Cikampak, lantaran sempit, berlubang di beberapa titik dan kerap berpapasan dengan truk besar. Tapi Kompasianer Harris Maulana meyakinkan kami, rute Cikampak adalah yang paling singkat menuju Gunung Bunder.Rute Cikampak ini adalah ujian sesungguhnya bagi pengendara mobil. Jika tak hati-hati mobil bisa bersenggolan dengan mobil dari arah berlawanan. Atau bila tak hati-hati di tanjakan yang menikung, mobil bisa jatuh ke jurang yang menganga di sebelah kanan jalan. Untungnya Jimmy cukup lihay mengendalikan Spin dan melibas semua tikungan dan tanjakan tanpa kompromi.

Hasilnya? Kami jadi the best 2 sebagai tim pertama yang tiba di Gunung Bunder bareng tim @Harrismaul dan @Pepih cs.

Cukup lama kami menunggu tim lain sampai di titik perhentian akhir di Gunung Bunder yang nyaman. Di sini kami beristirahat dan makan siang di sebuah tenda militer yang telah disiapkan panitia.

Usai makan siang, kami berdiskusi mengenai tes drive yang telah kami lakukan sejak dari Jakarta. Dipandu Aris FH dari Kompas Otomotif, diskusi berlangsung cair dan penuh hahahihi… Umumnya Kompasianer menanyakan sejumlah hal yang mereka temukan saat test drive, misalnya mengenai kesulitan saat menjalankan mobil pertama kali, beberapa fitur yang letaknya tak biasa, hingga range harga yang dipatok Chevrolet Indonesia. Beberapa kawan malah ada yang menanyakan adakah diskon khusus bagi Kompasianer yang hendak membeli Chevy Spin.

Usai diskusi dan bagi-bagi hadiah, kami berwisata di curug Cihurang yang jaraknya tak jauh dari tenda tempat kami berkumpul.

Finally, Gunung Bunder (foto: koleksi pribadi)

Finally, Gunung Bunder (foto: koleksi pribadi)

Beberapa Kompasianer memanfaatkan waktunya dengan berfoto dan mandi di air terjun. Ada 3 air terjun di sini yang bisa dieksplor, jaraknya pun berdekatan. Di kawasan Gunung Bunder sendiri ada beberapa destinasi air terjun lainnya yang bisa dikunjungi, seperti Curug Seribu, Curug Ngumpet, serta Curug Cigamea. Dan Curug Cihurang yang kami datangi adalah yang paling mudah dicapai.

Kelar main air, rombongan pun kembali ke Jakarta disambut hujan deras sejak kawasan Gunung Bunder. Lagi-lagi hujan kami anggap sebagai berkah. Itu artinya kami diberi kesempatan menguji kebandelan Spin menjejalahi jalanan menurun yang licin hingga jalanan kota yang berkubang air.

Curah hujan yang turun lumayan deras. Mobil harus berjalan hati-hati karena jarak pandang yang tak sampai 10 meter. Di sinilah perlunya insting dan penguasaan medan, jika itu tak dimiliki pengendara, bisa-bisa berakhir di jurang.

Sampai di ruas jalan tol Bogor Ring Road atau tol BORR kami dihadang kemacetan akut. Pembangunan jalan layang yang terus dilakukan membuat jalanan tersendat sejak sebelum kawasan tol.

Kemacetan ternyata masih jadi sahabat kami hingga di toljago. Sejak di GT Sentul mobil hanya bisa beringsut perlahan, benar-benar menguji kesabaran. Kami pun putus kontak dengan teman-teman peserta lain karena baterai HP drop dan HT yang disediakan tak berfungsi. Dan rencana berganti driver di rest area Km.35 pun batal, karena kami mengambil rute berbeda. Saya baru menggantikan Ari di rest area Cimanggis.

Narsis dulu ah (foto: koleksi pribadi)

Narsis dulu ah (foto: koleksi pribadi)


Akhirnya, kami tiba di markas Kompas-Gramedia sekitar pukul 18.45 sebagai peserta nomer dua. Entah dimana para peserta lainnya. Karena baru satu jam kemudian dua peserta lainnya tiba di titik akhir. Terima kasih Kompasiana dan Chevrolet Indonesia yang telah menggelar event istimewa ini. Mungkin next event test drive-nya bisa digelar di tempat yang lebih jauh jaraknya dan menarik lagi.

@syai_fuddin

738 kali dilihat, 0 kali dilihat hari ini