Film 2014 (foto koleksi Mahaka Pictures)

Film 2014 (foto koleksi Mahaka Pictures)

Saat negara berada dalam kondisi chaos, di mana peran Presiden? Apakah Presiden sebagai pemegang kendali pemerintahan adalah satu-satunya pihak yang memutuskan ? Bagaimana dengan peran ‘tangan-tangan di luar pemerintahan?’ Adakah ia menentukan ‘warna’ pemerintahan? Ataukah ia adalah “Presiden” sebenarnya?

Pertanyaan bernada gugatan semacam ini bisa ditemukan dalam film terbaru karya sutradara kenamaan Hanung Bramantyo dan Rahabi Mandra berjudul “2014 : Siapa di atas Presiden?”

Film ini mencoba keluar dari tren film yang pernah ada. Menyentuh persoalan politik yang sensitif. Bersetting sepenggal situasi saat Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 di negeri ini dengan ramuan bumbu laga dan drama.

Film “2014” berkisah tentang persaingan dalam Pilpres dengan 3 orang kandidat yang bersaing berebut kursi kepresidenan, yakni Bagas Notolegowo (diperankan Ray Sahetapy), Farhan Abdul Hamid (Rudy Salam) dan Syamsul Triadi (Akri Patrio).

Bagas Notolegowo, salah satu capres yang punya mimpi memberantas korupsi, menjadi sentral dalam kisah ini. Ia difavoritkan menggantikan presiden Jusuf Syahrir (Dedy Sutomo) karena selalu berada dipuncak polling capres. Di puncak persaingan, Bagas mengalami mimpi buruk, dijebak dalam sebuah konspirasi jahat. Ia didakwa membunuh.

Merasa ayahnya bukan pembunuh, Ricky (diperankan oleh Rizky Nashar) sang anak mencari tahu siapa ‘musuh’ ayahnya sebenarnya. Upaya berliku Ricky dibumbui adegan laga dan percintaan dengan anak seorang pengacara bernama Laras (Maudy Ayunda).

Konflik-konflik yang ditampilkan lumayan masuk akal. Beberapa hal yang selama ini hanya kita duga-duga, dalam film ini coba disuguhkan secara hitam putih. Seperti perilaku korup aparat penegak hukum yang selama ini dirasakan masyarakat namun tak pernah digambarkan secara gamblang melalui pita seluloid.

Apa yang digambarkan Hanung dan Rahabi Mandra sangat kontekstual dengan situasi kekinian. Drama perseteruan politisi dengan KPK sempat disentil, termasuk upaya konspirasi yang melibatkan banyak pihak juga dibuka.

Dalam film ini tokoh Bagas Notolegowo adalah personifikasi tokoh yang dirindukan banyak orang tapi tidak diinginkan para ‘penjahat’. Dan Ray Sahetapy berhasil menghidupkan karakter Bagas dengan cukup baik. Ray bisa tampil sebagai seorang Capres yang berwibawa, berpendirian dan tegas. Meski berada dalam kondisi terjepit, sosok Bagas tetap berpikiran jernih dan tak hanyut pada tekanan para ‘penjahat’.

Wajah dan Cermin Masyarakat

Film ini memang tak berpretensi sebagai film politik yang penuh dengan lika liku intrik, yang memuaskan syahwat berkuasa para tokohnya. Tapi ini adalah film dengan kritik sosial cukup keras. Hanung mengkritisi adanya ‘tokoh diatas Presiden’ yang kuasanya dirasakan tapi tak pernah terjamah siapapun.

Ini adalah wajah nyata masyarakat kita, yang penuh topeng, kemunafikan di sana sini. Namun di tengah ketidakacuhan itu masih ada anak-anak muda yang peduli pada persoalan besar. Ia tidak sekedar anak muda yang hanyut pada lingkungan tanpa punya peran apapun.

Oiya di film ini ada beberapa kutipan menarik yang diucapkan para pemain. Seperti diucapkan Capres Bagas Notolegowo “Kalau saya tidak menang maka Indonesia sudah kalah.” Perkataan ini jelas menyindir situasi negeri yang karut marut penuh dengan ketidak jelasan, dan ia menawarkan banyak solusi, salah satunya perang melawan korupsi.

Jika hendak menyamakan, kondisi ini mirip dengan apa yang pernah dan sedang terjadi di tanah air.

Biaya Produksi 7 Milyar

Film berbiaya 7 Milyar rupiah ini sendiri sebenarnya diproduksi sejak awal tahun 2013. Bahkan film ini juga sempat diputar di sejumlah festival film dunia, seperti festival film Osaka. Namun kemudian film ini ‘disimpan’ dengan berbagai pertimbangan, antara lain berbarengan dengan masa Pemilu Presiden tahun 2014.

Ditemui sebelum penayangan perdana di Cinemaxx FX Sudirman, Hanung Bramantyo menegaskan meski disebut sejumlah kalangan bahwa filmnya kontekstual dengan situasi politik nasional, namun film ini murni fiksi.

“Semua tokoh yang muncul di film ini adalah fiktif. Pihaknya hanya memotret sebuah fenomena dengan cara pandang berbeda. Jika ada kesamaan latar cerita, menurutnya adalah kebetulan,” tambah Hanung, Kamis malam (26/2).

Begitu lamanya film ini mengendap, membuat sejumlah orang yang terlibat dalam proses produksi kegirangan. Salah satunya adalah Celerina Judisari, produser film ini. Ia mengaku senang dengan tayangnya film 2014, sebab beban selama dua tahun menunggu penayangan film ini akhirnya lepas.

“Saya berasa seperti hamil dan kini sudah lahiran. Selama dua tahun saya dan semua kru dibuat senewen karena film ini,” ujar Celerina Judisari, produser film ini.

Pihak Mahaka Pictures sendiri kini menyerahkan ‘nasib’ filmnya kepada masyarakat. Kalaupun film ini kemudian memicu kontroversi karena kontennya, Celerina berharap pihak yang mengkritik film ini menonton terlebih dahulu.

“Yuk tonton film Indonesia, kalau bukan kita siapa lagi….”

*Tulisan ini sebelumnya diposting di Kompasiana. Diposting kembali menyambut Hari Film Nasional 30 Maret 2015.

3,967 kali dilihat, 0 kali dilihat hari ini