Seorang sepupu baru-baru ini kesal karena rencananya umroh di bulan Ramadhan yang lalu gagal total. Permohonan pengajuan Visa-nya ditolak pihak Kedubes Arab Saudi. Padahal dia sudah mengajukan permohonan melalui biro perjalanan umrohnya sesuai ketentuan.

Umroh mungkin masih bisa dilakukan di lain waktu, namun rencana menghabiskan 10 malam terakhir bukan Ramadhan di tanah suci hanya tinggal kenangan. Ia dan anak-anaknya terpaksa gigit jari, dan harus memendam keinginan itu hingga satu tahun ke depan.

Menurut pihak kedutaan, salah satu alasan tidak diizinkannya sepupu saya ke tanah suci karena jumlah pemohon Visa di 10 hari terakhir Ramadhan meningkat tajam. Umumnya mereka mengajukan Visa untuk digunakan mengikuti Ittikaf atau bermalam di tanah suci pada 10 malam terakhir Ramadhan.

Kesulitan mengurus Visa bisa jadi tak pernah dialami sesama warga negara Asean, karena di kawasan ini hampir semua negara sudah membebaskan pembuatan Visa bagi warga yang ingin bepergian di dalam kawasan. Dari 10 negara tercatat hanya Myanmar yang masih menerapkan kebijakan Visa bagi warga negara anggota Asean yang akan berkunjung.

Mengapa Myanmar sepertinya tidak peduli dengan perkembangan yang terjadi di Asean sehingga menjadi satu-satunya negara yang belum membebaskan Visa? Ini memang menjadi pertanyaan besar, apalagi Komunitas Asean dua tahunan lagi bakal diterapkan secara resmi. Dan konektivitas antar negara Asean adalah kunci keberhasilan hubungan dalam Komunitas ini.

Penerapan Visa kunjungan ke Myanmar bagi warga sesama negara Asean menurut saya justru akan merugikan Myanmar sendiri. Sebab keindahan dan kelebihan Myanmar tak akan bisa dinikmati oleh warga negara lain dengan mudah. Meski kebijakan ini tidak serta merta melarang kunjungan warga negara Asean, namun pemberlakuan Visa tentunya akan berpengaruh pada kunjungan wisatawan negara lain.

Saya menduga sikap yang diambil pemerintahan Myanmar dalam soal Visa tidak bisa dilepaskan dengan kondisi politik negeri itu yang belum sepenuhnya stabil. Transisi demokratik masih berjalan dan dianggap belum sepenuhnya “aman”. Karenanya mereka memilih membatasi kunjungan warga asing, walau dari kawasan Asean sekalipun.

Kendati sikap politik pemerintahan Myanmar belakangan mengalami kemajuan salah satunya ditandai ‘perdamaian’ dengan tokoh oposisi Aung San Suu Kyi, namun itu tak serta merta mencabut kebijakan dalam soal Visa. Belakangan Myanmar kembali jadi perbincangan dunia internasional terkait perlakuan tidak adilnya terhadap komunitas muslim minoritas Rohingnya.

Kendati tak habis pikir dengan sikap Myanmar, saya hormati kebijakan tersebut. Pasti mereka punya alasan tersendiri tetap menerapkan aturan tersebut. Namun saya yakin, suatu saat seiring membaiknya situasi politik dalam negeri Myanmar, warga Asean bakal mudah memasuki Myanmar untuk berwisata.

Sebenarnya apa sih Visa itu? Seberapa penting Visa bagi sebuah perjalanan ke luar negeri?

Untuk bisa bepergian ke luar negeri, secara internasional kita diharuskan memiliki sejumlah dokumen. Mulai dari paspor yang dikeluarkan Dinas Imigrasi masing-masing negara hingga Visa yang merupakan wewenang perwakilan negara tujuan. Berbeda dengan pengurusan paspor yang kini makin mudah dan cepat, mengurus Visa penuh lika-liku.

Ada yang harus antri dari pagi hingga petang, dan ketika gilirannya tiba, ia diminta datang lagi keesokan hari karena waktu layanan sudah habis. Ada yang butuh berminggu-minggu permohonan Visanya tak kunjung disetujui.

Seorang kawan blogger dari Bandung nyaris putus asa saat mengajukan permohonan visa Schengen (visa tunggal ke sejumlah negara di Eropa). Sepuluh kali mengajukan Visa dan kesemuanya ditolak dengan sukses dengan alasan yang bermacam-macam.

Berkat kegigihannya, bulan lalu ia akhirnya bisa mendapatkan Visa Schengennya kembali dan sudah digunakan untuk traveling sekaligus bulan madu bersama suaminya selama bulan Ramadhan hingga Iedul Fitri.

Itu belum seberapa, saat terjadi aksi teroris 911 di New York, Amerika Serikat ada banyak warga Indonesia yang tak mendapatkan visa untuk masuk ke Amerika. Saat itu pemerintah Amerika memperketat pemberian izin masuk ke negaranya karena tak mau ambil resiko terkait ancaman aksi teroris.

Rupanya prinsip kehati-hatian juga diterapkan negara sekutu Amerika lainnya. Saya sendiri sempat mengalami pemeriksaan keimigrasian yang cukup alot saat berkunjung ke Australia. Nama saya yang berbau muslim membuat petugas keimigrasian ekstra hati-hati melakukan pemeriksaan.

Meski sempat diperiksa agak lama, ternyata proses terhadap saya berlangsung masih lebih ‘cepat’. Sementara rekan seperjalanan saya diinterogasi berkali-kali oleh petugas imigrasi bandara Sydney lantaran wajahnya yang ke-Arab-araban, meskipun bukan seorang muslim.

Pada dasarnya saya mendukung kebijakan pengenaan Visa bagi pengunjung ke sebuah negara, utamanya diberlakukan bagi pengunjung asal negara yang cukup jauh dari negara tersebut. Untuk kawasan Asean memang idealnya tak ada lagi Visa bagi warga setempat. Ini akan mendorong arus kunjungan wisata regional yang lebih tinggi lagi.

Kebijakan bebas Visa akan menjadikan kawasan Asean sebagai kawasan yang menarik dan layak kunjung. Bukan tak mungkin kawasan ini nantinya bakal jadi destinasi wisata terpenting di dunia.

@syai_fuddin
#4 #10DaysForAsean

997 kali dilihat, 0 kali dilihat hari ini