Mencicipi Gurihnya Tutut

Nabila dan semangkuk Tutut

Siang tadi akhirnya saya genapi rasa penasaran putri saya Nabila pada Tutut. Ini bukan ngomongin anaknya mantan presiden Suharto, tapi penganan yang lagi jadi tren. Tutut itu sejenis keong sawah yang biasa didapati di desa-desa.

Meski tengah jadi tren, saya sendiri tak asing dengan keberadaan Tutut. Karena semasa kecil dan tinggal di rumah nenek di Nganjuk Jawa Timur, keong sawah yang disana disebut Kreco ini jadi jajanan sehari-hari saya. Namun entah mengapa kini jajanan itu lenyap tak ada lagi yang menjualnya.

Kalau tak salah, sejak sekitar 6 bulan silam Tutut yang populer di kota Bogor mulai merambah ibukota. Dan kawasan sekitar taman mini menjadi kelinci percobaan. Di kawasan ini tepatnya di pinggir jalan dekat masjid At Tin, semula hanya ada satu penjual Tutut yang menjajakan jualannya dengan mobil. Karena sambutan masyarakat cukup bagus, kini tak kurang ada 4 penjual Tutut di situ.

Dan sejak sepekan silam Tutut juga merambah kawasan tempat tinggal saya di Kranggan Cibubur (coret). Belum terlalu ramai memang, karena baru dan hanya orang-orang tertentu saja yang tahu penganan ini. Saat saya beli penjualnya sedang membungkusi Tutut dalam wadah plastik-plastik kecil seharga 3000 perak.

Soal rasa, jangan tanya. Pedas, asin dan segar. Sensasi makan Tutut itu bisa dilakukan dengan cara menyedot dagingnya yang bersembunyi di dalam cangkang mungilnya. Butuh kesabaran tersendiri karena tak semua daging Tutut bisa diseruput seperti itu. Kadang kita juga butuh tusuk gigi untuk mendorong keluar daging itu.

Nabila yang baru pertama kali mencicipi Tutut terlihat antusias. Bahkan sempat berebutan menghabiskan 3 porsi yang dibeli. Diantara 3 anak saya, Nabila memang tergolong berani mencoba hal-hal baru. Sebelumnya dia juga pernah merasakan sate bekicot saat kami sekeluarga mudik ke Kediri sekian tahun silam.

Oya, konon Tutut itu juga punya khasiat. Karena kaya akan protein, Tutut juga dipercaya bisa menjaga kebugaran, menambah nafsu makan, dan baik untuk hati (liver). Benar tidaknya soal khasiat tutut, rasakan sendiri. Dijamin ketagihan.

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • RSS
  • Technorati
  • Twitter

Mau Rumah Setengah Milyar Gratis?

Rumah gratis? Siapa mau..? Adalah portal properti rumah123.com yang memberi mimpi itu. Tak cuma saya, namun juga siapapun yang kebelet punya rumah dengan cara super mudah.

Rumah gratis yang ditawarkan rumah123.com tak sembarangan. Berlokasi di kota satelit Jakarta Bumi Serong Damai atau yang kini lebih dikenal sebagai BSD City. Harganya pun tak tanggung-tanggung, 500 juta alias setengah Milyar.

Hari gini diberi gratis rumah setengah Milyar siapa coba yang berkenan menolak? Apalagi lokasi rumah di sebuah kota yang sudah jadi, dengan sarana komplit dan akses jalan ke berbagai penjuru yang cukup baik.

Untuk bisa ikutan kontes ini mudah kok. Ada tiga langkah panduan. Pertama, Follow akun Twitter @rumah123 dan atau like fanpage Facebooknya yakni rumah123com. Kedua, daftarkan nama anda disitu dengan melengkapi form isian. Ketiga, cari rumah yang tertera di portal rumah123.com.

Shaun D.Gregorio dari rumah123 siang tadi menjamin kontes ini akan berlangsung Fair dan transparan. Untuk tahap pertama yang berlangsung 1 Mei hingga 31 Juli 2012, penyelenggara akan mencari 123 orang finalis. Para finalis ini akan diadu dalam sebuah voting terbuka melalui social media yang akan digelar 6-24 Agustus 2012. Dan peserta dengan dukungan voting terbanyak dari masyarakatlah yang akan diganjar hadiah sebuah rumah senilai 500 juta rupiah di BSD City.

Menurut penyelenggara, kontes ini digelar untuk memperlihatkan kepada masyarakat betapa mudahnya memiliki rumah saat ini. Semudah jika kita mencari informasi properti melalui rumah123.com.

Ujung-ujungnya memang pada pembentukn awareness masyarakat terhadap Brand rumah123.com sebagai portal properti nomor satu di Indonesia. Saat ini portal properti ini dikunjungi lebih dari 1,4 juta visitor tiap bulannya. Diharapkan dengan ajang kontes rebutan rumah gratis ini, pengunjung portal rumah123 akan meningkat setidaknya dua kali lipat dari sekarang, atau sekitar 2,8 juta pengunjung.

Penyelenggara yakin jumlah pengunjung yang mereka targetkan dapat dicapai selama periode kontes rebutan rumah gratis hingga Agustus mendatang.

Jadi bagi yang belum punya rumah atau sudah punya tapi ingin punya rumah kedua atau ketiga, kenapa tak ikutan ajang kontes rebutan rumah gratis ini.

Menurut saya, ini adalah event kontes blogger dengan hadiah terbesar yang pernah ada di negeri ini.

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • RSS
  • Technorati
  • Twitter

Yang Tercecer Dari Juke Video Contest

Ini dia winner Juke Video Contest 2012 yang digelar Nissan Indonesia. Tim Bocah Nakal berhasil keluar sebagai juara pertama lomba ini. Dari awal saya menjagokan video ini bakal berjaya di ajang ini. Secara kualitas video ini diatas video-video peserta lain yang juga sama kerennya. Namun video ini punya pesan yang kuat dan teknik editing yang dinamis. Selamat buat tim Bocah Tua Nakal yang bakal berangkat ke Jepang sebagai hadiah juara pertama.

Saat pengumuman pemenang 18 April silam, ternyata juri memberi apresiasi pula bagi satu tim yang videonya dinilai unik. Mereka adalah tim Juke Agent yang membuat video ala agen “james bond”. Meski masih kurang rapi secara editing, video kelompok ini punya cara berbeda menampilkan keunggulan fitur-fitur Juke dengan cara humor. Kekuatan video ini ada pada akting pemeran utama si nyonya sosialita yang bikin senyum.

Dari ajang ini saya dan Dyah Kusuma yang menjadi partner saya jadi tahu apa sebenarnya yang dimau oleh para juri. Saya akui persiapan kami agak kedodoran. Diskusi intens hanya kami lakukan sembari lalu, lantaran padatnya aktivitas kami masing-masing.

Dyah dengan project-project kerjaannya. Sementara saya harus mencuri waktu diantara kerja pagi dan malam hari. Bahkan saya sempat tumbang saat pengambilan gambar karena kurang tidur malam sebelumnya. Tapi ini bukan mencari alasan pembenaran. Konsep para pemenang memang lebih kuat.

Next time jika ingin ikut event sejenis harus ada waktu khusus untuk mematangkan ide dan mengeksekusi ide itu sendiri. Thx Nissan yang sudah memberi kesempatan kepada kami untuk ikut ajang keren ini. Semoga masih ada ajang keren semacam ini yang kami ikuti lagi.

Selamat buat para pemenang!

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • RSS
  • Technorati
  • Twitter

Earth Hour, Gelap-gelapan Selamatkan Bumi

Akhirnya kesampaian juga ikut partisipasi dalam Earth Hour, gerakan mematikan listrik selama satu jam yang jatuh pada Sabtu malam (31 Maret 2012).

Ini adalah kesertaan kami sekeluarga yang pertama kali sejak gerakan ini diluncurkan pada tahun 2007 di Sydney Australia. Dulu, mungkin karena baru, saya sendiri belum begitu peduli. Namun setelah mengetahui kegunaannya yang mampu menurunkan tingkat pemakaian listrik dunia, jauh-jauh hari saya sudah ancang-ancang bakal ikut ambil bagian tahun ini.

Tahun lalu saya abai ikut gerakan ini karena sedang bepergian. Namun tahun ini tak ada alas an apapun untuk tak ikut serta. Apalagi anak-anak juga mulai mengerti mengenai gerakan global ini. Mereka justru yang paling ramai berkoar-koar mengenai event tahunan yang menarik hati mereka itu.

Hampir saja tahun ini saya lewatkan moment istimewa ini karena keasyikan nonton film di tv. Akhirnya saya mulai mematikan saluran listrik di rumah pada pukul 21.35 WIB. Tak apalah telat lima menit, yang penting niatnya.

Lalu apa yang terjadi selama event Earth Hour? Karena istri dan 3 anak saya sudah tidur akibat kelelahan seharian beraktivitas, saya lewatkan 60 menit event Earth Hour sendirian. Lalu apa yang saya lakukan? Di menit-menit awal saya sengaja masuk kamar tidur dan berkontemplasi. Sambil berbaring saya merasakan kesenyapan yang dalam. Tak ada suara tv, dengung lemari es, atau temaram lampu yang masuk ke kamar tidur. Sesekali suara jangkrik dari belakang rumah terdengar. Nikmat sekali. Saya seperti terlempar di sebuah desa antah berantah. Sunyi, sendiri.

Sayangnya baru beberapa menit saya matikan semua aliran listrik, istri saya complain. Ia minta lampu emergensi yang menggunakan battery dinyalakan karena ia tak bisa tidur dalam kondisi gelap gulita. Saya mengalah dan malas berdebat.

Akhirnya saya memilih keluar rumah. Duduk-duduk di beranda rumah dalam suasana gelap asyik juga. Malam minggu pula. Coba masih jaman ngapel dulu, earth hour pasti disambut suka cita pasangan muda-mudi yang ngapel pacarnya. Hehe…

Di luar suasana ternyata sangat berbeda dengan di dalam kamar, saya lihat hanya ada satu rumah yang mencoba ikut serta memadamkan listrik, tetangga tepat di depan rumah. Sementara yang lain tak hirau ajakan Earth Hour. Tak apa, toh ini hanya ajakan bukan paksaan. Sejatinya sebuah ajakan memerlukan kesadaran personal bukan komunal.

Bicara kesadaran komunal, ada yang menarik dari pelaksanaan Earth Hour tahun ini. Di komplek tempat ayah saya tinggal di kawasan Joglo, warga diberi surat edaran bahwa akan ada pemadaman listrik bersama pukul 20.30 hingga 21.30 WIB dalam rangka mendukung kampanye Earth Hour. Wow sebuah kreativitas rupanya. Meski kalau ditelusuri kebijakan ini pastinya mengalir dari atas, pemerintah daerah DKI Jakarta.

Tak apalah, mungkin Foke ingin dikenang sebagai gubernur yang peduli pada lingkungan sehingga ‘mewajibkan’ pemadaman listrik saat Earth Hour. Padahal saya yakin bukan itu maksud gerakan ini. Sebuah gerakan sosial akan sangat bermakna jika tumbuh dari kesadaran personal. Tapi tak apalah, yang penting kita sudah berbuat untuk bumi tercinta ini, soal “cara” berbuat bisa berbeda asalkan punya kesamaan demi kelestarian bumi, tempat kita semua berpijak.

Untuk yang belum ikutan gerakan ini, saya pikir tak perlu menunggu tahun depan. Coba saja satu jam tanpa listrik kita agendakan dalam salah satu hari kita. Siapa tahu 60 menit itu jadi sesuatu yang berguna bagi kehidupan. Mulailah dari diri, dan tularkan pada orang lain.

Oya berikut fakta-fakta seputar Earth Hour yang saya himpun dari berbagai sumber. Dalam pelaksanaan tahun lalu, Earth hour di Jakarta mampu menghemat listrik hingga 170 megawatt. Maskapai penerbangan Garuda Indonesia mengaku program Earth Hour di lingkungan perusahaan dan rumah karyawannya mampu menekan pemakaian listrik hingga 2.158.527 Watt.

Nah, bayangkan jika masing-masing penduduk bumi bersama-sama mematikan listrik di rumah masing-masing, entah berapa juta watt yang berhasil kita hemat dan bisa kita wariskan pada anak cucu kita.

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • RSS
  • Technorati
  • Twitter

Djuli Elfano Tewas Ditembak di Depan Rumah Sendiri!

Kawasan Jabodetabek makin tak aman! Seorang kawan, produser berita di TVRI, Djuli Elfano, Sabtu siang (17/3) tewas ditembak pelaku curanmor (pencurian kendaraan bermotor) di depan rumahnya sendiri, di Vila Bintaro Indah, Tangerang Selatan. Menurut keterangan pihak keluarga, korban sempat mempertahankan sepeda motornya yang hendak dibawa kabur penjahat. Namun nahas, sebuah tembakan senjata api melumpuhkan Djuli hingga tewas.

Saya perlu garis bawahi, peristiwa sadis ini berlangsung di depan rumah korban sendiri, pelaku pencurian beraksi menggunakan senjata api (pistol), dan peristiwa terjadi di siang hari bolong!

Lokasi kejadian sendiri satu komplek perumahan dengan kediaman Pepih Nugraha, jurnalis Kompas yang juga mantan admin Kompasiana. Sore tadi saya BBM-an dengan Pepih menanyakan kejadian ini. Pepih mengaku datang ke TKP sepuluh menit setelah kejadian.

Menurut Pepih, kawasan boulevard Vila Bintaro Indah memang dikenal kerap menjadi sasaran kejahatan. Karena letaknya yang berbatasan dengan jalan besar, kawasan ini memang rawan. Tindak kriminal kerap menimpa warga yang tinggal di sekitar boulevard. Bahkan penembakan seperti dialami almarhum Djuli bukan sekali ini terjadi.

Ya, peristiwa yang menimpa Djuli ini menunjukkan bahwa pelaku tindak kejahatan makin nekat. Mereka beraksi bukan hanya di malam hari saat suasana sepi, namun juga di saat warga beraktivitas di rumah. Peristiwa ini juga menunjukkan senjata api kini makin mudah beredar, dan digunakan bukan hanya oleh aparat hukum seperti polisi atau tentara saja.

Ini memilukan. Mengapa ini terjadi? Dimana aparat keamanan? Rasa aman kian hari makin mahal saja. Apakah kita semua harus mempersenjatai diri agar tak menjadi korban kejahatan berikutnya? Saya rasa bukan itu solusinya.

Polisi sebagai aparat keamanan mesti menjawabnya dengan kerja, kerja dan kerja (pinjam mottonya PLN). Sudahi politisasi polisi, biarkan polisi bekerja sesuai perannya mengembalikan rasa aman di masyarakat yang kian menghilang.

Meski tragis cara kematiannya, kepergian Djuli Elfano harus kita iklaskan. Tapi juga harus jadi catatan bagi polisi : masih banyak pe-er mengenai keamanan masyarakat yang belum selesai.

Selamat jalan Djuli Elfano…

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • RSS
  • Technorati
  • Twitter

Yihaa…. Menang Kontes Ngeblog VOA!

@coffeecream waa congratz @syai_fuddin yg menang kontes blog @voaindonesia periode Januari!! *traktir traktiiir :D

Sepenggal twit dari teman saya, Desi pagi tadi membuat saya terperanjat. Saya nyaris lupa kalau ikut ajang Kontes Ngeblog VOA. Karena banyaknya peserta, saya pikir kans saya untuk memenangkan salah satu hadiah bulanan bakal sirna.

Postingan yang memenangkan gelar juara pertama kontes bulan Januari 2012 saya beri judul “Bahasa Daerah Terancam Punah Salah Kita Juga”. Tulisan yang saya posting 7 Januari 2012 ini berdasarkan berita di situs VOA Indonesia dengan judul “Jarang Digunakan, Ratusan Bahasa Daerah di Indonesia Terancam Punah”. Hadiahnya? gadget idaman Ipad 2!

Tulisan ini muncul dari kegelisahan saya mengamati kondisi bahasa daerah yang makin terpinggirkan di berbagai daerah. Salah satunya adalah akibat ‘ekspor’ bahasa kota ke desa. Kalau keberadaan bahasa daerah dan bahasa ‘kota’ tadi berjalan seiring no problem, tapi yang terjadi bahasa daerah seperti dirusak dan dipinggirkan. Memang ini tidak terjadi di semua daerah, namun apa yang saya temukan menjadi keprihatinan tersendiri.

Salah satu penanggap di tulisan saya mengatakan, mungkin yang saya temukan itu hanya khas di daerah saya. Benar, bisa saja begitu. Tapi itu adalah sebuah gejala sosial yang merambat seiring dengan penetrasi pengaruh kota ke desa-desa.

Kok jadi serius? hehe… baca saja sendiri di blog ini. Linknya ada di sini.

Oya, yang saya tak duga, kemenangan ini ternyata dipantau sebuah situs citizen journalism Koki (Kolom Kita) di Detik.com yang tertarik mempublish postingan saya di Koki. Saya cuma bisa bilang monggo… Ini link postingan di Koki.

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • RSS
  • Technorati
  • Twitter

Juke Video Contest

Setelah sukses menggelar event 7 Days With March, Nissan Motor Indonesia kembali menggelar event keren. Ajang kali ini agak berbeda. 7 Days March merupakan ajang review city car Nissan March berbasis pengalaman langsung penggunanya yang semuanya adalah blogger. Sementara Juke Creative Video Contest adalah kontes video dengan fokus utama kendaraan SUV Nissan Juke.

Perbedaan lainnya, saat “7Days” blogger diberi kesempatan merasakan pengalaman langsung berkendara Nissan March selama 7 hari. Sedangkan dalam event kali ini hanya 5 hari.

Karena namanya Juke Video Contest, ajang ini memang mensyaratkan para pesertanya membuat video bertema “Urban Energy”. Tak perlu panjang-panjang, karena durasi yang diinginkan panitia hanya 4 menit.

Beruntung saya dan Dyah Kusumawati yang tergabung dalam tim “Urban Sensation” termasuk dalam 12 tim yang lolos mengikuti event ini.

Oya, masing-masing tim yang terdiri dari 1 hingga 3 orang nantinya diminta mengupload video melalui akun youtube milik Nissan Motor Indonesia. Nantinya peserta diminta berkampanye seputar hasil karya video mereka melalui media sosial seperti twitter dan Facebook.

Saat briefing (kamis 23 Feb’12) panitia dari NMI menyatakan, karya yang menang dinilai dari kesesuaian tema, isi, tampilan/ kemasan, serta pemanfaatan social media sebagai media promo karya para peserta.

Saat ini tim yang masuk dalam Batch 1 sudah mulai masuk arena kompetisi. Sementara Tim saya, Urban Sensation akan menjajal ketangguhan Nissan Juke mulai tanggal 1 Maret mendatang. Do’akan dan dukung kami ya!

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • RSS
  • Technorati
  • Twitter

[Review Film] Negeri 5 Menara: Ketika Mimpi Saja Tak Cukup

Anda pastinya pernah bermimpi, seperti halnya saya. Tapi mimpi yang satu ini bukan bunganya tidur. Tapi sebuah mimpi akan masa depan. Sebuah mimpi yang diupayakan, dirawat dengan berbagai cara hingga mewujud suatu saat kelak.

Namun sejauh mana kita mampu mewujudkan mimpi kita, itu persoalannya.

Kesuksesan buku Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi sebagai buku terlaris tak ada yang bisa menyangkal. Sederet penghargaan yang diterima penulisnya juga membuktikan ini bukan karya fiksi biasa. Sebagai buku, N5M memang menjadi karya yang menginspirasi banyak pihak. Bahkan belakangan dampak N5M mewujud dengan terbentuknya komunitas Menara yang juga melahirkan sekolah gratis bagi anak-anak tak mampu.

Setelah sukses sebagai karya sastra, N5M sekarang bisa dinikmati dalam bentuk film layar lebar. Saya termasuk orang yang agak cemas manakala ada karya sastra yang diangkat ke layar lebar. Imaji saya mengenai keindahan lokasi, percakapan yang ‘dalam’ kadang pupus setelah mewujud sebagai karya sinema.

Contohnya banyak. Bahkan karya monumental Khaled Hosseini, The Kite Runner yang begitu indah dalam bentuk novel, setelah dialihkan dalam bentuk sinema ia jadi kering dan garing. Banyak nuansa yang tak terungkap.

Itulah bekal saya saat mendapat undangan menyaksikan premiere Film Negeri 5 Menara di Blitz Megaplex Pacific Place Jakarta, pekan lalu (17/2). Bersiap kecewa andai film ini sangat jauh dari novelnya.

Namun saya sadar, novel dan film adalah dua medium seni yang berbeda. Sangat tak adil membanding-bandingkan keduanya. Novel bersandar pada imajinasi kata. Sementara film adalah karya seni audio visual yang dominan menjual gambar. Tak akan pernah sebuah karya film sama persis dengan cerita di novelnya. Sebab ada hal-hal tertentu yang membatasi visualisasi imaji penulis menjadi bahasa gambar.

Lalu, apakah film Negeri 5 Menara secara filmis gagal?

Saya bisa katakan tidak. Meski ada kritik di sana-sini, film ini menyampaikan pesan yang kuat tentang sebuah perjuangan. Tentang sebuah usaha keras mencapai tujuan.

Film ini juga sarat dengan nilai-nilai persahabatan, sebuah nilai yang mulai luntur, setidaknya di kalangan masyarakat urban. Persahabatan para sohibul Menara yakni antara Alif dengan Baso, Atang, Radja, Dulmajid, dan Said terjalin begitu indahnya. Perbedaan latar belakang budaya tak menghalangi perkawananan diantara mereka. Bahkan persahabatan itu dipertahankan hingga dewasa.

Roh dari cerita Negeri 5 Menara sesungguhnya ada pada mantra Man Jadda Wa Jadda, yang menjadi penyemangat ke-6 tokoh utama film ini. Mantra yang berarti Siapa yang Bersungguh-sungguh akan berhasil ini menjadi pelecut semangat para sahibul Menara dalam meraih tiap tahapan hidup mereka.

Sahibul Menara Usai Nobar N5M (foto: SS)

Sayangnya, meski secara tema cukup bagus, ada beberapa catatan untuk film N5M. Pertama, di awal alur film ini sangat lamban, nyaris membosankan. Adegan di kampung halaman Alif kurang ‘emosinya’. Semula saya berharap sutradara bakal banyak mengeksplor keindahan lansekap Sumatera Barat. Tapi ternyata itu tak dilakukan dengan detil.

Kedua, pemilihan pemain. Gaza Zubizareta sebagai pendatang baru sebenarnya cukup bagus aktingnya, ia bermain cukup natural. Sayangnya Gaza punya wajah terlalu ‘kota’. Meski di awal sudah didandani agar mirip “fuadi” dengan rambut gondrongnya, tetap saja wajahnya yang indo Pakistan tak mampu melenyapkan kesan ia anak kota.

Untuk pemain lainnya, khususnya pemeran Atang dan Baso, saya kira itu adalah pilihan tepat. Keduanya bermain wajar, dan menunjukkan ‘local gesture’ yang enak dilihat.

Ada juga sedikit yang kurang pas dengan pemilihan Ikang Fawzi sebagai kyai Rais. Akting Ikang masuk kategori lumayan lah. Tapi coba perhatikan gaya bicara Ikang di awal yang sangat maksa. Ia berusaha bicara dengan aksen medok Jawa, tapi yang keluar jadi berantakan.

Ketiga, ada kesan jumping dari suasana di pesantren di ujung film ke adegan di Trafalgar Square saat 3 tokoh utama bertemu. Mengapa tak ada benang merah yang menceritakan ‘titik berhasil’ para sahibul menara mengamalkan mantra Man Jadda Wa Jadda. Proses itu tak tergambarkan. Ini menurut saya merupakan bagian penting, karena tak semua penonton adalah pembaca buku N5M.

Tapi overall, film ini layak tonton kok! Temanya tak biasa. Kita perlu tema film-film macam ini ditengah arus film layar lebar yang kebanyakan bertema horor. Publik butuh film yang memberi inspirasi, yang meniupkan semangat pantang menyerah. Kalau publik banyak mengeluhkan serbuah film horror yang tak bermutu, maka saatnya publik juga membuktikan mereka mendukung film Indonesia yang bertema bagus seperti Negeri 5 Menara.

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • RSS
  • Technorati
  • Twitter

Pasangan Ramelan-Teddy Daftar Pilkada Jum’at Ini

Ini adalah sedikit cerita saat mampir ke markasnya Bang Ramelan dan Kang Teddy, calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta dari jalur independen. Sebenarnya niat mampir ke markas ini sudah cukup lama, sayangnya baru kesampaian Senin kemarin (6 Feb’12).

Kunjungan saya tak lain memberikan dukungan pribadi kepada Bang Ramelan dan kang Teddy untuk maju sebagai calon independen dalam Pilkada DKI Jakarta. Meski hanya membawa sedikit foto copy KTP dukungan, tapi setidaknya sebagai sahabat saya sudah memberi andil dalam perjuangan Bang Ramelan. Oya, mengenai siapa itu sosok Prayitno Ramelan dan Teddy Suratmadji, klik saja website mereka di sini.

Mencari markas tim Ramelan-Teddy itu ternyata susah-susah gampang. Patokannya hanya pool Lorena di jalan TB Simatupang, dari situ kita harus menyusuri jalan yang tak seberapa besar. Dan ternyata tak terlalu jauh sampailah di markas tim Ramelan-Teddy.

Agak surprise juga melihat markas penggalangan dukungan suara bagi Ramelan-Teddy. Rumah yang digunakan sebagai markas kegiatan sangat sederhana, tidak ada baliho segede gaban yang biasa dipasang di markas tim sukses pasangan Pilkada. Satu-satunya penanda adalah poster hitam putih bertuliskan “Bismilah Kami Tegas & Independen”. Itu saja. Sangat simpel.

Begitu masuk ke dalam, anggota tim sukses bernama bapak Amal mendatangi saya dengan ramahnya. Ia menerima dan memberikan tanda terima foto copy KTP yang saya serahkan. Dari perbincangan kecil dengan pak Amal, saya ketahui kesibukan di markas tim sukses ini terjadi sepanjang hari. Mereka bekerja siang malam tanpa henti guna menjaring dukungan warga Jakarta sebagai salah satu prasyarat mendaftarkan diri dalam pilkada 2012 dari jalur independen.

Berbeda jika peserta Pilkada memperoleh dukungan parpol. Calon tinggal siapkan uang dukungan bagi parpol dan siap berkampanye. Sementara mereka yang memilih jalur independen jalan menuju pencalonan agak berliku, mulai dari mengumpulkan dukungan minimal 407 ribu lebih warga Jakarta yang dibuktikan dengan foto copy KTP. Selain itu, cagub independen pun masih harus bergulat mencari dana bagi pembiayaan kampanye.

Yang menggembirakan, ternyata kubu Ramelan-Teddy meski tak banyak disorot media, sudah berhasil mengumpulkan dukungan warga ibukota lebih dari 500 ribu orang. Jumlah yang luar biasa, mengingat pasangan ini termasuk yang ‘telat masuk gelanggang’ jika dibandingkan calon independen lainnya seperti Faisal-Biem yang sudah sekitar setahun bersiap.

Hari Rabu (8 Feb’12) KPU DKI Jakarta akhirnya secara resmi membuka pendaftaran bagi cagub DKI Jakarta dari jalur independen. Rencananya, pasangan Ramelan-Teddy akan mendaftarkan diri sebagai peserta Pilkada secara resmi hari Jum’at (10 Feb’12) lusa. Dipilihanya hari Jum’at, karena Ramelan-Teddy ingin memulai langkah perjuangannya di hari yang baik, hari Jum’at. Pendaftarannya pun akan dilakukan usai shalat sunnah Duha.

Sebuah pilihan waktu yang baik! Goodluck Ramelan-Teddy!

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • RSS
  • Technorati
  • Twitter

Rejeki Awal Tahun

Kemarin sebuah mention pesan dari @amriltg masuk ke TL saya. Isinya memberitahukan saya menjadi salah satu pemenang kontes. Begini pesannya @amriltg: PEMENANG GIVE AWAY CONTEST ASURANSI BUMIPUTERA / Catatan Dari Hati: http://t.co/k81Q2KRK Selamat untuk @iwokabqary @ipulG_ & @syai_fuddin !

Saya hanya bisa bilang wow! Alhamdulillah, berkah tahun baru! Rejeki memang tak bisa diduga darimana datangnya.

Kontes ini digelar Asuransi Bumiputera dalam rangka hari jadinya. Kita peserta kontes hanya diminta menuliskan komentar mengenai pengalaman kita bersama Bumiputera.

Sebagai nasabah Bumiputera sejak 13 tahun silam, saya tak punya kesulitan berarti saat mengomentari postingan mas amril. Karena yang saya tulis bukan basa-basi, tapi pengalaman riil berasuransi pendidikan Bumiputera selama ini.

Dan inilah yang saya tuliskan dalam kontes Give Away Bumiputera:

Uraian yang menarik mas Amril. Pengalamannya dengan asuransi Bumiputera nyaris sama dengan yang saya alami.

Bagi saya asuransi adalah Bumiputera. Begitulah yang ditanamkan ayah saat saya kecil dan mulai bertanya mengenai apa itu asuransi. Sedari kecil pula saya diberikan contoh bagaimana kami sekeluarga memperoleh keuntungan dengan menjadi pemegang polis asuransi Bumiputera. Yang saya ingat dari penjelasan ayah waktu kecil, asuransi Bumiputera itu terpercaya dan tak akan ingkar janji pada nasabahnya.

Rupanya pemahaman saya yang sederhana mengenai asuransi saat kecil membekas di benak saya bertahun-tahun kemudian. Saat punya anak dan mulai berfikir untuk masa depan pendidikannya, hanya satu nama yang saya ingat yakni Bumiputera. Kebetulan saat itu tetangga sebelah rumah sudah lebih dulu menjadi nasabah asuransi Bumiputera, dan saya pun bisa leluasa bertanya secara detail kepadanya.

Semua penjelasan tetangga itu kemudian dipertegas oleh agen asuransi bernama mbak Diah. Sayapun makin yakin dan sepakat mengambil paket asuransi pendidikan bagi anak saya sesuai kemampuan finansial kami.

Waktu itu banyak juga yang bertanya mengapa saya ikut asuransi, apakah tidak lebih aman dengan menabung saja? Saya jelaskan masing-masing punya kelebihan, namun asuransi memberikan proteksi pada masa depan pendidikan anak saya. Sementara jika menabung di bank tidak ada perlindungan terhadap pendidikan anak.

Kini Ihsan, anak saya sudah duduk di kelas 8 SMP. Alhamdulillah berkat kesertaan saya di asuransi Bumiputera, kami terbantu saat Ihsan butuh biaya sekolah yang kian hari makin mahal. Benar kata ayah saya dulu, Bumiputera tak pernah ingkar janji pada nasabahnya. Buktinya kami sudah menikmati benefitnya sejak Ihsan masuk TK, SD, hingga sekarang SMP.

Entah apa jadinya jika saya tak mengikuti asuransi Bumiputera, kelimpungan mencari biaya pendidikan pastinya.

Oya satu hal yang menurut saya menjadi kelebihan asuransi Bumiputera dibandingkan lainnya adalah sikap agennya yang sangat ramah dan helpful. Selama 13 tahun lebih ikut asuransi Bumiputera sudah dua agen yang melayani kami. Meski berbeda agen, namun keduanya memiliki kesamaan, ramah dan membantu. Karena dekat secara personal, mereka sudah seperti saudara bagi kami. Sentuhan personal yang seperti inilah menjadi salah satu alasan mengapa kami betah bersama Bumiputera.

Rasa ‘feel at home’ tak bisa serta merta terbangun antara agen dengan nasabah kalau mereka tak ditanamkan ‘nilai-nilai’ oleh Bumiputera sendiri. Dan kami bisa merasakan para agen Bumiputera yang kami temui sudah bekerja dengan hati.


Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • RSS
  • Technorati
  • Twitter